Candu Cerita Sex Pertama Mencoba | Candu Sex
VIMAX
Agen Capsa
Bandar Q agen bandarq online bandar sakong bandar sakong bandarq online
Home » Cerita Sex Lesbi » Candu Cerita Sex Pertama Mencoba

Candu Cerita Sex Pertama Mencoba

Bandar Sakong

Cerita Sex Pertama Mencoba. Sebelum menginjak cerita mohon untuk mempersiapkan tisu agar bisa crot leboh aman, hehe awal cerita begini, Warda namanya dia duduk di sofa yang sedang meminum air dari gelasnya, , tanya kepada Warda, “sudah selesai belum, Naura yang sedang duduk didepannya sedang mengerjakan tugas di rumah Warda, “bentar lagi ini juga mau selesai tugasnya “ jawab Naura

Warda mengamati roman Naura yang serius menyembunyikan tugasnya. Walaupun berambut cepak cepak sebagaimana lelaki, akan tetapi Naura uniform tak dapat menyembunyikan kebaikan wajahnya, yang ditunjang sambil tubuhnya yang langsing secara sepasang tetek yang pas besar, tumbuh lebih lekas daripada para gadis famili 1 SMP sebayanya. cerita sex terbaru 

Cerita Sex Pertama Mencoba

cerita sex Lesbi, Ngentot Lesbi, Lesbi Mesum, cerita hot Lesbi, cerita Lesbi hot, kumpulan cerita Lesbi hot, cerita x Lesbi, cerita seks Lesbi, cerita Lesbi haus

Warda memang punya tanda tersendiri bersikap mengajari Naura matematika dalam rumahnya saat ulangan biasa ini. Walaupun menjadi korban banyak pemuda di sekolahnya, tak satu pun memperoleh sambutan dari Warda.

Pasalnya gadis mempesona berambut berjarak yang segera berkembang cukup umur dan mulai dari mempunyai kakas seksual itu ternyata tak tertarik menurut lawan macam, ia lebih menyukai bertanding dan bersengkarut dengan sesama gadis.

Tatkala Naura, adinda kelas yang memang telah lama ia sukai itu meminta Warda yang kadang terkenal menyimpangkan pintar di antara murid-murid famili 2 untuk mengajarinya matematika, Warda tak menyia-nyiakan teknik Emas itu. “Udah nih! ” memotong Naura serempak, menyentakkan Warda dari lamunannya.

Warda menyimak Naura yang mengacungkan lektur di depannya sambil tersenyum, lesung pipitnya tercetak demikian dalam pada pipinya yang putih terbuka itu, menghasilkan wajahnya sebagai semakin mendongkolkan. Sambil mengambil buku tersebut, Warda mencoret jauh-jauh pikirannya yang rugi ke mana-mana, “Sini hamba periksa! ” tukasnya.

Kental selesai Warda memeriksa telatah “muridnya” tersebut ketika serempak ibunya terbit di celah tamu memaparkan bahwa ia akan mengikuti ayah Warda ke pangkalan sambil mengangkat adik Warda yang tetap kecil, dan kemudian dari kian langsung sampai Sukabumi olehkarena itu ada dulur mereka yang sakit muluk.

Warda diminta menjaga graha baik-baik bertepatan Iroh, si pembantu keluarga. Telah terpelajar mandiri mulai kecil, Warda tak merasakan berat beserta keadaan tersebut. Tak lelet, ibu serta adiknya menghindar naik taksi dan Warda pun menyimpan memeriksa pendidikan Naura. “Lumayan, cuma wahid yang khilaf.

Lu cepet ngerti pula ya,? ” perintah Warda. Naura tersenyum takut-takut mendengar tepuk tangan ini, dan kemudian pamit untuk pulang olehkarena itu hari sudah biasa menjelang silam.

“Eh, tanpa dulu dong! Emanng yang salah tersebut nggak rencana dikoreksi lepas? Sekalian deh aku jelasin kesalahannya, agar lu ngerti, ” perintah Warda.

“Tapi entar hamba pulang kemalemann, Fan, ” jawab Naura bingung. “Gini aja. Sira telepon saja nyokap sira. Bilang sira nginep disini malem tersebut. Sekalian nemenin aku, ” balas Warda.

Walaupun ucapan bicaranya sepatutnya, dalam membenang Warda luar biasa berharap Naura menyambut usulnya ini. “Kalo dikasih, ye? ” elakan Naura menghasilkan Warda lapang dada.

Naura yang mengagumi uda kelasnya yang cantik serta pintar tersebut sebenarnya benar-benar senang diajak menginap. Oleh sebab itu ia pula biar menelepon di rumahnya serta ternyata formal untuk menginap.

Dengan semarak, Warda memangku leher Naura, dan mengajaknya ke meja makan untuk makan silam. Lengannya tanggal dengan rileks kalem di segi Naura tengah mereka lari. Cerita Seks Bergambar

Walau tampil santai, sedianya Warda luar biasa berdebar-debar mereguk buah dada pelan adik kelasnya ini bergesek-gesek dengan tangannya.

Tapi apa-apa lacur, reses tak rumpang membuat Warda terpaksa melepas rangkulannya. Jadi makan, tersebut pun melanjutkan pelajaran beserta serius, terlintas Warda pula biar melupakan kegemparan gairah sedikit yang pernah ia rasakan.

“Udeh lepas ye, Fan? ” undangan Naura sehabis sekitar 1, 5 weker belajar, “Otak aku udeh butek nih!

” lanjutnya setengah menunggu. “Iya deh. Aku pula udah lejar, ” elakan Warda, “Yuk ah! ” katanya serta berdiri menyimpan buku-buku pada meja mencopet.

Mereka menyesar ke ruang Warda serta Naura tepat menghenyakkan tubuhnya di tilam sementara Warda sendiri hidup di status meja belajarnya. Mereka mengoceh tak tetap arah kurang lebih saat begitu akhirnya petunjuk obrolan entah kenapa start menyinggung di arah yang sensitif.

“Ooh, jadi sira udah menstruasi? ” perintah Warda, dan kemudian dilanjutkan, “Jadi udah sejahtera cowok dong? ” “Tapi aku tetap males mencekau pacar. Cowok-cowok pada kerokot sih! Nggak demen hamba! ” balasan Naura.

Warda yang merasakan mendapat siklon langsung menyasarkan pembicaraan. “Lha, aku kirain toket sira gede olehkarena itu sering dipegang-pegang ama tambatan hati lu. ”

“Enggak lagi. Ini Mamak dari sononya begini, ” jawab Naura sambil menyimak buah dadanya,

“Kayaknya agaknya Emang sanak saudara, keluarga hamba yang putri toketnya Mamak gede-gede. ”

Warda yang mulai gembur dengan petunjuk pembicaraan tersebut merasa merekam jalan serta terus menjepit. Ia merintis kaosnya, mengucapkan mini atur menutupi risiko dadanya yang sedikit, walaupun tampil mulai berkembang.

“Kayaknya toket aku nggak gede-gede deh, ” ujarnya sambil melurut mini atur dari dadanya, menampilkan putingnya yang mempunyai warna coklat lembut, “Aku pengen segede memiliki lu, Em. ” Naura terhenyak mengamati kakak kelasnya dengan rileks kalem bertelanjang segi di depannya.

Seumur kehidupan ia belum pernah mengamati wanita terbuka, bahkan ibunya sendiri. Warda melanjutkan serangannya. “Coba deh lihat toket lu. ” Naura tambah terbelalak.

“Ah, malu ah aku! ” “Idih, ngapain malu lagi! Kan nggak ada bujang, ” memotong Warda, “Ayo buka saja.
” Taksiran bingung tapi bangga beserta perhatian si kakak kualitas, Naura pula biar akhirnya melurut kaos daripada tubuhnya, mengucapkan BH bersih yang memeram buah dadanya.

Warda menyesar ke tilam dan hidup di tamat Naura, tepat meraih serta melepaskan rompak BH Naura. Wajah Naura bersemu berma, apalagi ketika Warda melepas BH-nya dan kemudian menarik lengannya, membalikkan badannya hingga waktu ini mereka hidup berhadapan pada ranjang, sama-sama bertelanjang segi. Naura tertunduk sementara Warda merasakan darahnya berdesir pirsa pemandangan menawan sepasang susu berukuran 34 di hadapannya ini.

Warda menelan ludah berusaha menyetir[ki] pengalaman erotis pertamanya tersebut. Ia melihat wajah Naura yang menghindari kontak mata dengannya. “Em, lu kok malu sih? Toket lu bagus lagi. ” Naura melirik Warda,

“Segini sih kecil, Fan. Kakak aku pake BH nomor 36B. ” “Ya dia kan udah kuliah, ” tukas Warda, “Untuk usia lu, toket lu tuh udah gede. ” Wajah Naura semakin memerah dengan perasaan malu bercampur bangga akan pujian kakak kelasnya yang cantik ini.

Sementara di lain pihak, Warda sendiri sNaurakin berdebar-debar dan memberanikan diri melanjutkan eksperimen seksualnya. “Aku pegang, ya? ” pinta Warda sambil menatap Naura. Gadis manis berambut cepak ini ternyata masih belum berani menatap Warda dan tak memberi jawaban apa-apa.

Warda menganggap Naura tak menolak dan segera meraih dada adik kelasnya ini. Naura menggigit bibir. “Hi hi hi hi hi.. ”

Naura terkikik saat Warda mengelus-elus buah dadanya dengan jantung berdebar-debar, “Geli, Fan! ” lanjut Naura lagi. “Aku mau ngerasain juga dong! ” tukas Warda sambil meraih tangan Naura dan menuntunnya ke arah dadanya.

Naura kembali menggigit bibir, namun tak memberikan perlawanan. Tangannya menyentuh puting Warda dan ia pun menggerakkan tangannya berputar-putar meraba buah dada Warda. Naura terpesona saat ia melirik wajah kakak kelasnya ini dan tampak Warda memejamkan mata sambil menggigit bibir.

Tampak sekali bahwa Warda sangat menikmati sentuhannya. “Enak ya, Fan? ” tanya Naura setengah bingung, Warda hanya menganggukkan kepala tanpa membuka mata, “Coba lu raba aku lagi dong, ” pinta Naura penasaran.

Kedua gadis itu pun saling meraba buah dada masing-masing beberapa saat. Tampak Warda sangat menikmati sensasi seksual pertamanya ini. Kulit telanjang mereka sama-sama tampak merinding. Warda melepaskan tangannya dari dada Naura, lalu menghela napas panjang, menikmati dengan sepenuh hati rangsangan gairah pertamanya ini, sementara Naura kembali terkikik geli.

Warda bangkit dan menarik lengan Naura agar mengikutinya berdiri. “Lu mau tahu nggak rasanya kalo pacaran ama cowok? ” tanya Warda yang membuat Naura bingung tak mengerti. Warda melanjutkan,

“Aku juga belom pernah. Kita cobain yuk?! ” Naura sNaurakin tak paham maksud Warda, namun diam saja saat Warda membungkukkan badannya dan langsung mengulum puting Naura dengan lembut.

Naura tersentak dan sontak mundur sambil mendorong kepala Warda, “Gila lu, Fan! Geli lagi! Lihat tuh aku sampe merinding! ” tukas Naura menunjukkan seluruh kulit tubuhnya yang mNaurang berbintik-bintik merinding.

Tetap dalam posisi membungkuk, Warda melirik sang adik kelas sambil berkata, “Namanya juga baru nyobain. Lu rasain aja dulu. Kata orang-orang enak. ”

Warda merengkuh pinggang Naura dan menariknya mendekat, sementara Naura yang kebingungan dengan pengalaman pertama yang baginya sangat aneh ini tak kuasa melawan.

Dengan jantung berdebar penuh perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, Warda kembali menempelkan bibir mungilnya yang basah itu pada puting Naura dan dengan lembut mNaurasukkan puting berwarna gelap itu ke dalam mulutnya.

Ia mengulum puting Naura dengan lembut sementara Naura menggigit bibir menahan rasa geli hebat yang kembali membuat seluruh tubuhnya merinding. Tak lama hingga Naura merasakan rasa geli berubah menjadi perasaan berdesir yang tak ia pahami dan tak bisa ia jelaskan.

Setiap hisapan Warda memberikan sNauracam perasaan tersetrum ringan yang nikmat dan lenguhan kecil terlepas dari bibirnya tanpa terkendali, “Uhh.. ” Terkesiap mendengar ini, Warda menghentikan hisapannya dan bangkit menatap Naura, “Enak ya, Em? ” tanyanya dengan polos dan tulus.

Naura tak bisa menjawab, hanya menganggukkan kepalanya. “Terus terang, aku juga suka banget ngisepin pentil lu, ” lanjut Warda lagi, “Aku nggak bisa jelasin perasaan aku, tapi pokoknya enak banget deh, terangsang banget. ” Naura kembali hanya mengangguk tanpa bisa bicara.

Kini Warda menarik lengan Naura dan mendudukkannya di pinggir ranjang, sementara ia sendiri berlutut di lantai, “Aku terusin ya? ” katanya lembut. Tanpa menunggu jawaban dari Naura, Warda langsung kembali mendaratkan bibirnya di klitoris adik kelasnya yang kekhawatiran itu serta kembali mengulumnya, kali ini beserta gairah yang sNaurakin bertenaga dalam dadanya sendiri.

Beserta refleks, Warda mulai mNaurainkan lidahnya di dalam puting Naura, membuat Naura terpekik lumpuh sambil serempak kedua tangannya mencengkeram kepala negeri Warda. Tapi kali ini Naura tak menyandung Warda. Meskipun ia sekiranya seperti memikat kepala Warda agar mencucut dan menjilati putingnya sNaurakin keras.

Warda sendiri luar biasa menikmati jiwa yang sNaurakin meledak-ledak di dirinya, disematkan reaksi Naura yang membuatnya sNaurakin terangsang, hingga memotong dan bibirnya sNaurakin sadis menjilati serta menghisapi klitoris Naura.

“Ohh.. ” Naura mendesah tanpa ia sadari. Warda pula biar melepas mulutnya dari susu Naura, menghasilkan kekecewaan serta rasa termenung terbersit pada wajah Naura.

“Gantian dong, Em, ” kata Warda, “Kayaknya sira nikmatin sungguh. Aku kendi juga rencana ngerasain, ” lanjutnya beserta perasaan padat pengharapan serta antisipasi.

Naura tentunya mNaurahami ini meskipun merasa luar biasa aneh mesti menghisap susu sesama perempuan, namun sehabis ia mereguk kenikmatan serta rangsangan jiwa yang pertama kali ini ia rasakan, ia tahu Warda pasti bakal merasakan kesedapan yang sama.

Oleh sebab itu kini Warda duduk pada pinggir tilam dan Naura, masih wajar duduk pada pinggir tilam, membungkukkan awak dan start mengulum serta menghisap klitoris Warda. “Ngghh.. ” lenguhan Warda tepat meledak demikian bibir becek Naura mencucut putingnya yang sedikit dan afiat itu.

Pacar Warda tertutup rapat provisional darahnya meramas jantung oleh stimulan dan kesedapan hebat yang baru saat ini ia rasakan. Tahu uda kelasnya merasai ini, Naura sNaurakin santai dan melanjutkan hisapan serta jilatannya di dalam puting Warda, bahkan sNaurakin lama sNaurakin liar serta ganas, menghasilkan Warda tertekan mencengkeram kepala negeri Naura serta merintih-rintih menyudahi gairah,

“Aaahh.. ahh.. Emm.. Enak Emm.. ” Naura sendiri tidak menyangka bakal menikmati kepandaian ini, menggamit tubuh Warda dan sNaurakin menjadi-jadi menghisapi puting Warda. “Ohh.. ohh.. ohh.. terhambat.. stop.. terhambat dulu Em.. ohh.. Emm.. ” desah Warda.

Salah tingkah dan waham tindakannya khilaf hingga Warda tak lagi menikmati tersebut, Naura keluar menjilati klitoris Warda serta menatap uda kelasnya yang terengah-engah beserta wajah berma padam padat birahi tersebut,

“Kenapa, Fan? Nggak segak, ya? ” tanya Naura bingung. “Gila lu! Tenteram banget lagi, ” balasan Warda,

“Cuma aku berasa aneh nih, Em. Sepertinya celana dalem aku makin basah deh. ” Naura terbeliak sNaurakin bingung mengikuti itu. “Mungkin saking nikmatnya aku berkemih dikit pada celana kesempatan, ” liat Warda sama-sama tak menginterpretasikan.

Warda tepat bangkit muncul dan melepas celana pendeknya, lalu menjamah celana dalamnya, “Tuh kendi! Bener becek! ” tukasnya lalu ia mencium tangannya yang pertama ia mengenakan meraba selangkangannya itu,

“Tapi bukan berkemih nih, Em. Nggak hancing tuh! ” ujar Warda yang dilanjutkannya dengan melurut celana dalamnya hingga waktu ini ia benar-benar telanjang kuat berdiri lepas Naura.

Warda memeriksa serawal dalamnya serta mendapatkan lumayan lendir suci melekat pada celana dalamnya. “Ih, bener, bukan berkemih, Em. Lendir nih! ” tukas Warda sambil mengikuti ke petunjuk Naura serta terkejut mengamati Naura tampil duduk beserta gelisah serta menggerak-gerakkan pahanya dengan pacar tampak menusuk. “Naah, sira juga becek ya, Em? ” hunus Warda mencengangkan Naura!

Spontan Warda memikat lengan Naura hingga ari kelasnya tersebut berdiri pada depannya, dan kemudian dengan segera Warda membuka celana ringkas sekaligus selampit Naura yang masih terlalu kebingungan terlintas tak berbuat perlawanan. Warda menarik serawal Naura roboh dari pergelangan kakinya dan kemudian kembali muncul dan menampilkan lendir suci yang juga ditemui di sesi dalam selampit adik kelasnya yang menawan itu.

“Tuh lihat, sira juga menongol lendirnya, Em. ” Naura hanya senyap sementara Warda sNaurakin bergerak pada produk seksual tersebut yang ternyata berkembang rumpang melebihi perkiraannya.

Dengan semampai kurang lebih 160-an cm serta berat sekitar 45 kg, Warda serta Naura benar-benar tampak diantaranya sepasang kenya cilik, sama-sama telanjang kuat, berdiri berseberangan, menjelajahi kepandaian seksual mula-mula mereka yang membingungkan, tapi menggairahkan sekali lalu memberi kesedapan hebat.

Warda melempar ke-2 celana dalam di lantai serta mengulurkan tangannya ke selangkangan Naura. “Ngghh.. ” Naura melenguh jenjang selagi setruman gairah mahir meledak di dirinya ketika jari Warda menyentuh perkataan vaginanya yang basah tersebut. Lututnya suwir terasa lNauras dan kepalanya terasa mudah melayang. Kecek Sex

Mengamati tNaurannya ragu-ragu, Warda tepat merangkulnya serta menuntunnya meleset duduk pada ranjang. Warda sendiri hidup di sanding Naura, memangku pundak Naura dengan sisi tangan dan kemudian tangan satunya kembali melanjutkan meraba tempik Naura.

Diiringi desah jiwa Naura yang sangat merangsang pada telinga si kakak kualitas, Warda menggosok-gosokkan jarinya beserta lembut pada sepanjang perkataan vagina Naura yang sNaurakin lama tampil sNaurakin mencekah, menampilkan ketuat merah muda afiat dan basah sang perawan cilik. “Hhh.. Fan.. ohh.. ngghh.. mmhh.. ”Warda sNaurakin terangsang dan sNaurakin berani.

Ujung jari tengahnya ia masukkan ke dalam vagina Naura dan ia gerakkan menggesek daging segar vagina Naura yang sNaurakin lama sNaurakin banyak mengeluarkan lendir bening itu dari bawah ke atas, hingga menyentuh klitoris Naura yang mulai mencuat. “Ngk! Ahh.. ” Naura terpekik menggairahkan saat jari Warda mencapai klitorisnya.

Warda terkejut namun sNaurakin terangsang melihat reaksi nikmat sang adik kelas. Wajah menggNauraskan Naura tampak sNaurakin menggairahkan dengan mata terpejam menikmati sentuhan lembut Warda.

Mempertahankan kelembutan tekanannya, jari Warda sNaurakin cepat menggesek vagina dan klitoris Naura, membuat Naura mendesah dan merintih tak terkendali.

“Hhh.. hh.. ngh.. nghh.. mm.. mm.. ohh.. ” Sementara vagina Warda sendiri sNaurakin basah oleh lendir gairah, Warda sNaurakin terangsang melihat kenikmatan yang jelas-jelas ditunjukkan Naura di wajahnya, ia pun sNaurakin bergelora dan membungkukkan badannya dan kembali menjilati dan menghisap puting Naura dengan liar dan bernafsu.

“Ohh.. ohh.. ohh.. Fann.. gillaa.. ohh.. ennak Fan.. mmhh.. ” “Sllrrp.. sllrrpp.. klcp.. klcp.. sllrrpp.. klcp.. mm.. klcp.. klcp.. ” “Mmm.. mm.. mm.. nghh.. nghh.. Faann.. Faann.. Fann.. oh.. oh.. oh.. oh.. ” Desahan dan rintihan Naura yang dipenuhi kenikmatan sNaurakin terdengar liar dan tak terkendali, sementara Warda yang sNaurakin terangsang menggesekkan jarinya sNaurakin liar di vagina perawan Naura dan lidah dan bibirnya melahap puting Naura dengan sNaurakin bernafsu.

Naura sendiri merasa gelombang kenikmatan memuncak dalam dirinya dan suatu perasaan seperti kesemutan merebak perlahan-lahan ke seluruh tubuhnya. Dengan nafas tersengal-sengal, Naura mencengkeram erat kepala Warda dan menekannya keras ke buah dadanya, lalu dalam suatu ledakan kenikmatan yang terasa bagaikan tak berujung,

Naura memekik tertahan saat perasaan kesemutan dalam tubuhnya meledak menjadi setruman kenikmatan puncak yang membuat cairan kental tumpah deras dari dalam vaginanya, membasahi jari Warda yang masih liar menggesek-gesek vaginanya.

“Aaakk! ” pekik Naura sambil dengan refleks menjepit tangan Warda dengan kedua pahanya, sementara tangannya mencengkeram kepala Warda sNaurakin keras dan kepalanya terdongak ke belakang dengan bola mata terputar ke belakang penuh kenikmatan.

Warda yang berusaha menarik tangannya membuat jarinya kembali menggesek vagina Naura dari bawah ke atas dengan gerakan sangat pelan, membuat Naura kembali menikmati ledakan-ledakan kenikmatan yang terasa tak kunjung habis, mNauraksanya menggigit bibirnya.

Akhirnya tangan Warda lepas dari jepitan paha Naura disertai lenguhan panjang Naura yang mengakhiri kenikmatan puncak orgasme pertamanya, “Ohh.. ” Warda menatap penuh rasa terpesona dan bergairah saat Naura ambruk terlentang di kasur dengan mata terpejam dan nafas terengah-engah. Ia menyusul berbaring di samping Naura dan memeluk tubuh sang adik kelas, langsung dibalas pelukan erat Naura yang sangat menikmati pengalaman seksual indah ini. Keduanya berpelukan erat, saling menikmati kenyamanan kehangatan tubuh yang lain.

Setelah beberapa saat, akhirnya mereka saling melepas pelukan dan Naura tersenyum menatap mata Warda. Rasa cinta dan kasih sayang mendalam tersorot jelas dari mata Naura. Warda mNaurahami perasaan ini dan mengecup bibir Naura dengan lembut. Mereka lalu terkikik geli bersama-sama, lalu kembali saling berpelukan erat dan Naura berbisik di telinga Warda, “Fan, aku nggak ngerti perasaan aku saat ini.

Tapi rasanya aku nggak mau pisah dari elu. Aku rasanya sayaang banget ama elu. ” Warda tersenyum dan membalas bisikan sang adik kelas,

“Aku juga sayang banget ama elu, Em. Lu jadi pacar aku aja, ya? ” Walaupun tak pernah terpikir akan berpacaran dengan sesama wanita, namun Naura tak bisa memungkiri perasaannya saat ini, “Iya, Fan. Aku mau jadi pacar elu. Aku cinta ama elu. ”

Mereka melanjutkan berpelukan erat dan hangat selama beberapa saat, lalu Naura melepas pelukannya dan berkata pada Warda. “Gila, Fan. Lu bikin aku nikmat banget. Sekarang gantian ya, aku yang raba elu? ”

“Iya dong, aku juga mau ngerasain kayak elu. Tapi jari lu jangan dimasukin ya? Kayak aku aja tadi, digesek-gesek aja. Aku takut keperawanan aku sobek, ” balas Warda. Naura hanya mengangguk dan tetap dalam posisi rebahan, ia membuka paha Warda hingga mengangkang lebar, membuka vagina mudanya yang segar merekah, lalu mulai meraba-rabanya dengan jari tengahnya.

Tak memakan waktu lama bagi vagina Warda untuk kembali basah penuh lendir gairah, apalagi saat Naura mendaratkan bibir dan lidahnya, mempermainkan puting Warda yang mungil itu. Desahan dan rintihan Warda pun akhirnya meledak menjadi pekikan penuh kenikmatan saat orgasme yang liar dan lama, seperti yang dinikmati Naura, bergejolak dalam tubuh mungil Warda.

Dalam keadaan sama-sama telanjang bulat, Warda dan Naura berpelukan mesra dan penuh kasih sayang, hingga akhirnya mereka tertidur pulas hingga pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*