Candu Cerita Sex Bareng Adik Ipar | Candu Sex
VIMAX
Agen Capsa
Bandar Q agen bandarq online bandar sakong bandar sakong bandarq online
Home » Cerita Sex Sedarah » Candu Cerita Sex Bareng Adik Ipar

Candu Cerita Sex Bareng Adik Ipar

Bandar Sakong

Cerita Sex Bareng Adik Ipar. Aku mengagetkan adik dari istriku, dia sedang di dapur untuk bersiap memasak, “bwaaaaaa lagi apa?? Aku bentak dari belakang , sontak dia kaget ternyata dia sedang memegang pisau dan memotong tempe, hampir saja tangannya terkena pisau tajam,
Hehehe maaf bilangku, tapi tangannya belum keiris seperti tempe itu kan sambil menggodanya, dia tanya mbak kemana mask ok belum pulang jam segini, aku jawab owwh dia sedang lembur di kantor dan entar malam aku jemput dia, “kamu sendiri gak berangkat ke kampus” tanyaku.

Kisah Seks Indonesia 2018 = Cerita Sex Dewasa

Cerita Dewasa Bareng Adik Ipar

cerita sex sedarah, cerita ml sedarah, cerita ngesex sedarah, sedarah cerita, cerita hubungan sedarah, cerita sedarah bergambar, cerita ngetot sedarah, cerita 18 sedarah, cerita sedarah keluarga, cerita sedarah panas, cerita sedarah baru, daftar cerita sedarah, cerita seks sedarah, cerita sedarah kakak, cerita bokep sedarah, cerita nakal sedarah, cerita ngntot sedarah, cerita sedarah adik, cerita sedarah new, cerita sedarah terkini, cerita sedarah 18, cerita wanita sedarah, cerita cerita sedarah

“Tadi sebentar, namun tidak jadi kuliah. Jadinya pulang cepat. ” “Aauww, ” teriak Yeyeni mendadak sembari memegangi satu diantara jarinya.

Saya segera menghampirinya, serta kulihat memanglah ada darah menetes dari jari telunjuk kirinya. “Sini saya bersihin, ” kataku sembari membungkusnya dengan serbet yang saya capai demikian saja dari atas meja makan.

Yeyeni terlihat meringis waktu saya menetesinya dengan Betadine, walaupun lukanya cuma luka irisan kecil saja sesungguhnya. Sebagian waktu saya menetesi jarinya itu sembari kubersihkan beberapa bekas darahnya.

Yeyeni terlihat tampak canggung waktu tanganku selalu membelai-belai jarinya. “Udah ah Mas, ” tuturnya berupaya menarik jarinya dari genggamanku.

Saya pura-pura tidak mendengar, dam masihlah selalu mengusapi jarinya dengan tanganku. Saya lalu menuntun dia untuk duduk di kursi meja makan, sembari tanganku tidak melepas tangannya. Sedang saya berdiri persis di sebelahnya.

“Udah tidak apa-apa kok Mas, Terima kasih ya, ” tuturnya sembari menarik tangannya dari genggamanku. Kesempatan ini ia sukses melepaskannya.

“Makanya janganlah ngelamun dong. Anda lagi inget Ma si Novan ya? ” godaku sembari menepuk-nepuk lembut pundaknya.

“Yee, tidak ada hubungan, tau, ” jawabnya cepat sembari mencubit punggung lenganku yang masihlah ada dipundaknya. Kami memanglah akrab, lantaran umurku dengan dia cuma terpaut 4 th. saja.

Saya sekarang ini 27 th., istriku yang juga kakak dia 25 th., sedang adik iparku ini 23 th.. “Mas bisa bertanya tidak. Jika cowok telah deket Ma teman cewek barunya, lupa tidak sih Ma pacarnya sendiri? ” tanyanya mendadak sembari menengadahkan mukanya ke arahku yang masihlah berdiri mulai sejak tadi.

Sembari tanganku tetaplah meminjat-mijat pelan pundaknya, saya cuma menjawab, “Tergantung. ” “Tergantung apa Mas? ” desaknya seperti penasaran.

“Tergantung, jika si cowok ngerasa teman barunya itu lebih cantik dari pacarnya, ya dapat saja dia lupa Ma pacarnya, ” jawabku sekenanya sembari terkekeh.

“Kalo Mas sendiri bagaimana? Misalnya gini, Mas miliki teman cewek baru, trus tu cewek nyatanya lebih cantik dari pacar Mas. Mas dapat lupa tidak Ma cewek Mas? ” bertanya dia. “Hehe, ” saya cuma ketawa kecil saja mendengar pertanyaan itu.

“Yee, jadi ketawa sih, ” tuturnya sedikit cemberut. “Ya dapat saja dong. Buktinya saat ini saya deket Ma anda, saya lupa deh jika saya telah miliki istri, ” jawabku lagi sembari tertawa. Cerita Sex Sedarah

“Hah, awas lho ya. Nanti Yeyeni bilangan lho Ma Mbak Ratri, ” tuturnya sembari menahan tawa. “Gih bilangin saja, memang anda lebih cantik dari Mbak anda kok, ” kataku terbahak, sembari tanganku mengelus-ngelus kepalanya.

“Huu, Mas nih di tanya serius jadi becanda. ” “Lho, saya memang serius kok Yeni, ” kataku sedikit berpura-pura serius. Saat ini belaian tanganku di rambutnya, telah beralih sedikit jadi sejenis remasan-remasan gemas. Dia mendadak berdiri.

“Yeyeni mo lanjutin masak lagi nih Mas. Terima kasih ya dah diobatin, ” tuturnya. Saya cuma membiarkan saja dia pergi ke arah dapur kembali. Lama saya pandangi dia dari belakang, sungguh cantik serta sintal banget body dia.

Demikian fikirku waktu itu. Saya mendekati dia, kesempatan ini berpura-pura menginginkan menolong dia. “Sini agar saya bantu, ” kataku sembari mencapai sebagian lembar tempe dari tangannya.

Yeyeni seakan tidak ingin dibantu, ia berupaya tidak melepas tempe dari tangannya. “Udah ah, tidak usah Mas, ” tuturnya sembari menarik tempe yang telah saya pegang beberapa. Waktu itu, tanpa ada kami sadari nyatanya cukup lama tangan kami sama-sama menggenggam. Yeyeni terlihat sangsi untuk menarik tangannya dari genggamanku.

Saya lihat mata dia, serta tanpa ada berniat pandangan kami sama-sama bertabrakan. Lama kami sama-sama berpandangan. Perlahan-lahan mukaku kudekatkan ke muka dia.

Dia seperti kaget dengan tingkahku kesempatan ini, namun tidak berupaya sedikit juga menghindar. Kuraih kepala dia, serta kutarik sedikit supaya lebih mendekat ke mukaku. Cuma hitungan detik saja, saat ini bibiku telah menyenituh bibirnya.

“Maafin saya Yeni, ” bisiku sembari selalu berupaya mengulum bibir adik iparku ini. Yeyeni tidak menjawab, tidak juga berikan tanggapan atas ciumanku itu. Kucoba selalu melumati bibir tipisnya, namun ia belum memberi tanggapan juga.

Tanganku tetap masih memegang sisi belakang kepala dia, sembari kutekankan supaya mukanya makin rapat saja dengan mukaku.

Sesaat tangaku yang satu, saat ini mulai kulingkarkan ke pinggulnya serta kupeluk dia. “Sshh, ” Yeyeni seperti mulai terbuai dengan jilatan untuk jilatan lidahku yang selalu menyenituh serta menciumi bibirnya. Seperti tanpa ada ia sadari, saat ini tangan Yeyeni juga telah melingkar di pinggulku. Serta lumatanku juga telah mulai direspon olehnya, walaupun masihlah beberapa sangsi. “Sshh, ” dia mendesah lagi.

Mendengar itu, bibirku makin ganas saja menjilati bibir Yeyeni. Perlahan-lahan namun tentu, saat ini dia juga mulai menyeimbangi ciumanku itu. Sesaat tangaku dengan liar meremas-remas rambutnya, serta yang satunya mulai meremas-remas pantat sintal adik iparku itu.

“Aahh, mass, ” kembali dia mendesah. Mendengar desahan Yeyeni, saya seperti makin hilang ingatan saja melumati serta sesekali menarik serta sesekali menghisap-isap lidahnya. Yeyeni makin tampak mulai terangsang oleh ciumanku.

Ia sesekali tampak menggelinjang sembari sesekali juga terdengar mendesah.Mas, udah ya Mas,” katanya sambil berusaha menarik wajahnya sedikit menjauh dari wajahku. Aku menghentikan ciumanku.

Kuraih kedua tangannya dan kubimbing untuk melingkarkannya di leherku. Yeyeni tak menolak, dengan sangat ragu-ragu sekali ia melingkarkannya di leherku. “Yeyeni takut Mas,” bisiknya tak jauh dari ditelingaku.

“Takut kenapa, Yeni?” kataku setengah berbisik. “Yeyeni nggak mau nyakitin hati Mbak Ratri Mas,” katanya lebih pelan. Aku pandangi mata dia, ada keseriusan ketika ia mengatakan kalimat terakhir itu.

Tapi, sepertinya aku tak lagi memperdulikan apa yang dia takutkan itu. Kuraih dagunya, dan kudekatkan lagi bibirku ke bibirnya.

Yeyeni dengan masih menatapku tajam, tak berusaha berontak ketika bibir kami mulai bersentuhan kembali. Kucium kembali dia, dan dia pun perlahan-lahan mulai membalas ciumanku itu. Tanganku mulai meremas-remas kembali rambutnya.

Bahkan, kini semakin turun dan terus turun hingga berhenti persis di bagian pantatnya. Pantanya hanya terbalut celana pendek tipis saja saat aku mulai meremas-remasnya dengan nakal.

“Aahh, Mas,” desahnya. Mendengar desahannya, tanganku semakin liar saja memainkan pantat adik iparku itu. Sementara tangaku yang satunya, masih berusaha mencari-cari payudaranya dari balik kaos oblongnya.

Ah, akhirnya kudapati juga buah dadanya yang mulai mengeras itu. Dengan posisi kami berdiri seperti itu, batang penisku yang sudah menegang dari tadi ini, dengan mudah kugesek-gesekan persis di mulut vaginanya.

Kendati masih sama-sama terhalangi oleh celana kami masing-masing, tetapi Yeyeni sepertinya dapat merasakan sekali tegangnya batang kemaluanku itu. Cerita Hot Sedarah

“Aaooww Mas,” ia hanya berujar seperti itu ketika semakin kuliarkan gerakan penisku persis di bagian vaginanya. Tanganku kini sudah memegang bagian belakang celana pendeknya, dan perlahan-lahan mulai kuberanikan diri untuk mencoba merosotkannya.

Yeyeni sepertinya tak protes ketika celana yang ia kenakan semakin kulorotkan. Otakku semakin ngeres saja ketika seluruh celananya sudah merosot semuanya di lantai.

Ia berusaha menaikan salah satu kakinya untuk melepaskan lingkar celananya yang masih menempel di pergelangan kakinya. Sementara itu, kami masih terus berpagutan seperti tak mau melepaskan bibir kami masing-masing.

Dengan posisi Yeyeni sudah tak bercelana lagi, gerakan-gerakan tanganku di bagian pantatnya semakin kuliarkan saja. Ia sesekali menggelinjang saat tanganku meremas-remasnya. Untuk mempercepat rangsangannya, aku raih salah satu tanganya untuk memegang batang zakarku kendati masih terhalang oleh celana jeansku.

Perlahan tangannya terus kubimbing untuk membukakan kancing dan kemudian menurunkan resleting celanaku.

Aku sedikit membantu untuk mempermudah gerakan tangannya. Beberapa saat kemudian, tangannya mulai merosotkan celanaku. Dan oleh tanganku sendiri, kupercepat melepaskan celana yang kupakai, sekaligus celana dalamnya. Kini, masih dalam posisi berdiri, kami sudah tak lagi memakai celana.

Hanya kemejaku yang menutupi bagian atas badanku, dan bagian atas tubuh Yeyeni pun masih tertutupi oleh kaosnya. Kami memang tak membuka itu.

Tanganku kembali membimbing tangan Yeyeni agar memegangi batang zakarku yang sudah menegang itu. Kini, dengan leluasa Yeyeni mulai memainkan batang zakarku dan mulai mengocok-ngocoknya perlahan.

Ada semacam tegangan tingi yang kurasakan saat ia mengocok dan sesekali meremas-remas biji pelerku itu. “Oohh,” tanpa sadar aku mengerang karena nikmatnya diremas-remas seperti itu. “Mas, udah Mas.

Yeyeni takut Mas,” katanya sambil sedikit merenggangkan genggamannya di batang kemaluanku yang sudah sangat menegang itu.

“Aahh,” tapi tiba-tiba dia mengerang sejadinya saat salah satu jariku menyenituh klitorisnya. Lubang vagina Yeyeni sudah sangat basah saat itu.

Aku seperti sudah kerasukan setan, dengan liar kukeluar-masukan salah satu jariku di lubang vaginanya. “Aaooww, mass, een, naakk..” katanya mulai meracau. Mendengar itu, birahiku semakin tak terkendali saja.

Perlahan kuraih batang kemaluanku dari genggamannya, dan kuarahkan sedikit demi sedikit ke lubang kemaluan Yeyeni yang sudah sangat basah. “Aaoww, aaouuww,” erangnya panjang saat kepala penisku kusentuh-sentukan persis di klitorisnya.

“Please, jangan dimasukin Mas,” pinta Yeyeni, saat aku mencoba mendorong batang zakarku ke vaginanya. “Nggak Papa Yeni, sebentaar aja,” pintaku sedikit berbisik ditelinganya.

“Yeyeni takut Mas,” katanya berbisik sambil tak sedikit pun ia berusaha menjauhkan vaginanya dari kepala tongkolku yang sudah berada persis di mulut guanya. Tangan kiri Yeyeni mulai meremas-remas pantatku, Cerita Hot Sedarah

Sementara tangan kanannya seperti tak mau lepas dari batang kemaluanku itu. Untuk sekedar membuatnya sedikit tenang, aku sengaja tak langsung memasukan batang kemaluanku. Aku hanya meminta ia memegangi saja.

“Pegang aja Yeni,” kataku pelan. Yeyeni yang saat itu sebenarnya sudah terlihat bernafsu sekali, hanya mengangguk pelan sambil menatapku tajam. Remasan demi remasan jemari yeyeni di batang zakarku, dan sesekali di buah zakarnya, membuatku kelojotan.

“Aku udah gak tahan banget Yeni,” bisikku pelan. “Yeyeni takut banget Mas,” katanya sambil mengocok-ngocok lembut kemaluanku itu.

“Aahh,” aku hanya menjawabnya dengan erangan karena nikmatnya dikocok-kocok oleh tangan lembut adik iparku itu. Kembali kami saling berciuman, sementara tangan kami sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Saat bersamaan dengan ciuman kami yang semakin memanas, aku mencoba kembali untuk mengarahkan kepala tongkolku ke lubang vaginanya.

Saat ini, Yeyeni tak berontak lagi. Kutekan pantat dia agar semakin maju, dan saat bersamaan juga, tangan Yeyeni yang sedang meremas-remas pantatku perlahan-lahan mulai mendorongnya maju pantatku.

“Kita sambil duduk, sayang,” ajaku sambil membimbing dia ke kursi meja makan tadi. Aku mengambil posisi duduk sambil merapatkan kedua pahaku. Sementara Yeyeni kududukan di atas kedua pahaku dengan posisi pahanya mengangkang.

Sambil kutarik agar dia benar-benar duduk di pahaku, tanganku kembali mengarahkan batang kemaluanku yang posisinya tegak berdiri itu agar pas dengan lubang vagina Yeyeni.

Ia sepertinya mengerti dengan maksudku, dengan lembut ia memegang batang kemaluanku sambil berupaya mengepaskan posisi lubang vaginanya dengan batang kemaluanku.

Dan bless, perlahan-lahan batang kemaluanku menusuk lubang vagina Yeyeni. “Aahh, aaooww, mass,” Yeyeni mengerang sambil kelojotan badannya. Kutekan pinggulnya agar dia benar-benar menekan pantatnya. Dengan demikian, batang tongkolku pun akan melesak semuanya masuk ke lubang vaginanya.

“Yeenn,” kataku. “Aooww, ter, russ mass.., aahh..” pantatnya terus memutar seperti inul sedang ngebor. “Ohh, nik, nikmat banget mass..” katanya lagi sambil bibirnya melumati mukaku. Hampir seluruh bagian mukanku saat itu ia jilati. Untuk mengimbangi dia, aku pun menjilati dan mengisap-isap puting susunya.

Darahku semakin mendidih rasanya saat pantatnya terus memutar-mutar mengimbangi gerakan naik-turun pantatku.

“Mass, Yee, Yeeyeen mau,” katanya terputus. Aku semakin kencang menaik-turunkan gerakan pantatku. “Aaooww mass, please mass” erangnya semakin tak karuan.

“Yee, Yeyeen mauu, kee, kkeeluaarr mass,” ia semakin meracau. Namun tiba-tiba, “Krriingg..” “Aaooww, Mas ada yang datang Mas..” bisik Yeyeni sambil tanpa hentinya mengoyang-goyangkan pantatnya.

“Yenin,” suara seseorang memanggil dari luar. “Cepetan buka Yenin, aku kebelet nih,” suara itu lagi, yang tak lain adalah suara Ratri kakaknya sekaligus istriku.

“Hah, Mbak Ratri Mas,” katanya terperanjat. Yeyeni seperti tersambar petir, ia langsung pucat dan berdiri melompat meraih celana dalam dan celana pendeknya yang tercecer di lantai dapur. Sementara aku tak lagi bisa berkata apa-apa, selain secepatnya meraih celana dan memakainya.

Sementara itu suara bel dan teriakan istriku terus memanggil. “Yeenn, tolong dong cepet buka pintunya. Mbak pengen ke air nih,” teriak istriku dari luar sana.

Yeyeni yang terlihat panik sekali, buru-buru memakai kembali celananya, sambil berteriak, “Sebentarr, sebentar Mbak..”

“Mas buruan dipake celananya,” Yeyeni masih sempet menolehku dan mengingatkanku untuk secepatnya memakai celana. Ia terus berlari ke arah pintu depan, setelah dipastikan semuanya beres, ia membuka pintu.

Aku buru-buru berlari ke arah ruang televisi dan langsung merebahkan badan di karpet agar terlihat seolah-olah sedang ketiduran.

“Gila,” pikirku. “Huu, lama banget sih buka pintunya? Orang dah kebelet kayak gini,” gerutu istriku kepada Yeyeni sambil terus menyelong ke kamar mandi.

“Iya sori, aku ketiduran Mbak,” kata Yeyeni begitu istriku sudah keluar dari kamar mandi. “Haa, leganyaa,” katanya sambil meraih gelas dan meminum air yang disodorkan oleh adiknya. “Mas Jeje mana Yeni?”

“Tuh ketiduran dari tadi pulang ngantor di situ,” kata Yeyeni sambil menunjuk aku yang sedang berpura-pura tidur di karpet depan televisi.

“Ya ampun, Mas kok belum ganti baju sih?” kata istriku sambil mengoyang-goyangkan tubuhku dengan maksud membangunkan.

“Pindah ke kamar gih Mas,” katanya lagi. Aku berpura-pura ngucek-ngucek mata, agar kelihatan baru bangun beneran. Aku tak langsung masuk kamar, tapi menyolong ke dapur mengambil air minum.

“Lho katanya pulang ntar abis magrib, kok baru jam setengah lima udah pulang? Kamu pulang pake apa?” tanyaku berbasa-basi pada istriku.

“Nggak jadi rapatnya Mas. Pake taksi barusan,” jawab dia. “Lho, kamu lagi masak toh Yeni? Kok belum kelar gini dah ditinggal tidur sih?” kata istriku kepada Yeyeni setelah melihat irisan-irisan tempe berserakan di meja dapur.

“Mana berantakan, lagi,” katanya lagi. “Iya tadi emang lagi mo masak. Tapi nggak tahan ngantuk. Jadi kutinggal tidur aja deh,” Yeyeni berusaha menjawab sewajarnya sambil senyum-senyum. Sore itu, tanpa mengganti pakaiannya dulu, akhirnya istrikulah yang melanjutkan masak.

Yeyeni membantu seperlunya. Sementara itu, aku hanya cengar-cengir sendiri saja sambil duduk di kursi yang baru saja kupakai berdua dengan Yeyeni bersetubuh, walau belum sempat mencapai puncaknya. Ada kisah yang tak kalah serunya dengan ini bisa memebuat bikin tegang di sekujur tubuh Cerita Sex Habis Tidur Ngentot

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*