Candu Cerita Sex Majikan Maniak Bercinta | Candu Sex
VIMAX
Agen Capsa
Bandar Q agen bandarq online bandar sakong bandar sakong bandarq online
Home » Cerita Sex Ngentot » Candu Cerita Sex Majikan Maniak Bercinta

Candu Cerita Sex Majikan Maniak Bercinta

Bandar Sakong

Cerita Sex Majikan Maniak Bercinta. Ingin rasanya kehidupannku aku rubah dengan cara pergi ke ibukota karena katanya kalau disana bisa mengubah hidup, tapi nyatanya yang aku rasa hidup di ibukota sungguh keras dari pada di desa, dengan bermodal ijazah SMP aku memberanikan pergi kesana, walaupun aku tidak punya saudara di Jakarta, tapi apa sesampainya di sana ijazahku tak ada gunanya.

Cerita Sex Majikan Maniak Bercinta

cerita sex tante 2017, cerita hot tante 2017, cerita tante hot 2017, cerita hot tante tante 2017, kumpulan cerita tante hot 2017, cerita x tante 2017, cerita tante tante hot 2017, cerita sesk tante 2017, cerita hot tante montok 2017, cerita hot tante muda 2017, kumpulan cerita hot tante 2017, cerita tante haus 2017, cerita ml tante tante 2017, cerita hot tante cantik 2017

Jangankan ijazah SMP yang pada sarjana  aja susah untuk mencari pekerjaan banyak yang menganggur, kalau mau pulang ke desa rasanya malu karena belum jadi apa apa, yang penting disini aku bisa cari duit untuk meyambung hidupku dulu, cuaca di Jakarta setiap harinya memang panas, aku masih mencari lowongan pekerjaan tapi tak ada yang berkenan dengan apa yang aku bisa.

Setelah berjalan dengan kaki, aku sangat lelah keringat keluar dari tubuhku dan aku lihat wajahku juga kucel, aku berhenti di bawah pohon untuk berteduh, untuk istirahat sebentar dan membuka bekal dari kampung yang semakin hari semakin menipis, aku hitung hitung ternyata bekal yang aku bawa cukup untuk 3 hari kedepan.

Aku menatap orang orang yang berlalu lalang dengna masalahnya, mobil dan motor yang ramai sekali di jalan raya, terlihat semua orang mementingkan dirinya sendiri tanpa memperdulikan sekelilingnya, terlihat ada wanita yang sedang jengkel karena mobilnya mogok, dia meminta bantuan pada yang lewat tapi hanya melewatinya, aku terguguah untuk membantu dia karena melihat kasihan.

Aku berdiri dan menghampiri wanita tersebut,

“Maaf Ibu sapaku disampingnya , mobilnya mogok ya??

“oh iya nih aku juga gak tau tiba tiba mogok gini, biasanya juga baik baik saja, sambil matanya agak mencurigai diriku”.

“Boleh aku saksikan ” ujarku memohon ijin. “silakan bila dapat.

” Saat di kampung aku kerap bantu-bantu paman yang buka bengkel motor. Kadang-kadang ada pula mobil yang minta diperbaiki. Namun namanya di kampung, tidak sering orang yang miliki motor.

Apa lagi mobil. Maka dari itu usaha paman tak pernah dapat maju. Cuma cukup untuk makan keseharian saja. Seperti seseorang pakar mesin saja, aku cobalah melihat-lihat serta mengecek semua peluang yang bikin mesin mobil ini tidak ingin hidup.

Serta tak tahu memperoleh pertolongan dari tempat mana, aku temukan juga penyakitnya. Sesudah aku perbaiki, mobil itu pada akhirnya dapat hidup kembali. Sudah pasti wanita yang memiliki mobil ini jadi suka.

Walau sebenarnya awal mulanya dia telah putus harapan. Dia buka tasnya serta keluarkan duit lembaran dua puluh ribu. Segera disodorkan padaku. Namun aku tersenyum serta menggelengkan kepala.

“Kenapa? Kurang..? ”, tanyanya.

“Tidak, Ibu. Terima kasih”, ucapku menampik halus.

“Kalau kurang, kelak aku tambah”, tuturnya lagi. “Terima kasih Ibu.

Aku hanya membantu saja. Aku tak menginginkan imbalan”, kataku tetaplah menampik. Walau sebenarnya duit itu nilainya besar sekali bagiku. Namun aku jadi menampiknya. Wanita yang kuperkirakan berumur sekitaran 38 th. itu memandangiku dengan kening berkerut.

Seolah dia tak yakin bila di kota yang super repot dengan orang-orangnya yang senantiasa mementingkan sendiri, tanpa ada perduli dengan lingkungan sekitarnya, nyatanya masihlah ada pula orang yang dengan tanpa ada pamrih ingin membantu serta menolong sesamanya.

Maaf, kelihatannya kamu dari kampung..?” ujarnya bernada bertanya ingin memastikan.

“Iya, Ibu. Baru seminggu aku datang dari kampung”, sahutku polos.

“Terus, tujuannya mau kemana?” tanyanya lagi.

“Cari kerja”, sahutku tetap polos.

“Punya ijazah apa?”.

“Cuma SMP.” “Wah, sulit kalau cuma SMP. Sarjana saja banyak yang jadi pengangguran kok. Tapi kalau kamu benar-benar mau kerja, kamu bisa kerja dirumahku”, katanya langsung menawarkan.

“Kerja apa, Ibu..?” tanyaku langsung semangat. “Apa saja. Kebetulan aku perlu pembantu laki-laki. Tapi aku perlu yang bisa setir mobil.

Kamu bisa setir mobil apa. Kalau memang bisa, kebetulan sekali”, sahutnya. Sesaat aku jadi tertegun.

Sungguh aku tidak menyangka sama sekali Ternyata ijasah yang kubawa dan kampung hanya bisa dipakai untuk jadi pembantu. Tapi aku memang membutuhkan pekerjaan saat ini. Daripada jadi gelandangan, tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung menerima pekerjaan yang ditawarkan wanita itu saat itu juga, detik itu juga aku ikut bersama wanita ini ke rumahnya.

Ternyata rumahnya besar dan megah sekali. Bagian dalamnya pun terisi segala macam perabotan yang serba mewah dan lux. Aku sampai terkagum-kagum, seakan memasuki sebuah istana. Aku merasa seolah-olah sedang bermimpi.

Aku diberi sebuah kamar, lengkap dengan tempat tidur, lemari pakaian dan meja serta satu kursi. Letaknya bersebelahan dengan dapur. Ada empat kamar yang berjajar. Dan semuanya sudah terisi oleh pembantu yang bekerja di rumah ini.

Bahkan tiga orang pembantu wanita, menempati satu kamar. Aku hitung, semua yang bekerja di rumah ini ada tujuh orang. Kalau ditambah denganku, berarti ada delapan orang. Tapi memang pantas. mengurus rumah sebesar ini, tidak mungkin bisa dikerjakan oleh satu orang.

Apalagi setelah beberapa hari aku bekerja di rumah ini aku sudah bisa mengetahui kalau majikanku, Ibu Cindy selalu sibuk dan jarang berada di rumah. Juga suaminya yang lebih sering berada di luar kota atau ke luar negeri.

Sedangkan kedua anaknya sekarang ini sekolah di luar negeri. Aku jadi heran sendiri. Entah bagaimana cara mereka mencari uang, hingga bisa kaya raya seperti ini. Tapi memang nasib, rejeki, maut dan jodoh berada di tangan Tuhan.

Begitu juga yang terjadi denganku. Dari jadi pembantu yang tugasnya membersihkan rumah dan merawat tanaman, aku diangkat jadi sopir pribadi Ibu majikan. Bukan hanya jadi sopir, tapi juga sekaligus jadi pengawalnya.

Kemana saja Ibu Majikan pergi, aku selalu berada di sampingnya. Karena aku harus selalu mendampinginya, tentu saja Ibu membelikan aku beberapa potong pakaian yang pantas. Terus terang, pada dasarnya memang aku tampan dan memiliki tubuh yang tegap, atletis dan berotot.

Makanya Ibu jadi kesengsem begitu melihat penampilanku, setelah tiga bulan lamanya bekerja jadi sopir dan pengawal pribadinya. Aku bisa berkata begitu karena bukan cuma jadi sopir dan pengawal saja. Tapi juga jadi pendampingnya di ranjang dan menjadi penghangat tubuhnya.

Mengisi kegersangan dan kesunyian hatinya yang selalu ditinggal suami. Dan aku juga menempati kamar lain yang jauh lebih besar dan lebih bagus. Tidak lagi menempati kamar yang khusus untuk pembantu. Semua bisa terjadi ketika malam itu aku baru saja mengantar Ibu pergi berbelanja.

Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, aku langsung dipanggil untuk menemuinya. Semula aku ragu dan hampir tidak percaya, karena langsung disuruh masuk ke dalam kamarnya. Tapi memang Ibu memintaku untuk masuk ke dalam kamarnya.

Dia menyuruhku untuk menutup pintu, setelah aku berada di dalam kamar yang besar dan mewah itu. Aku tertegun, apa lagi saat melihat Ibu Majikanku itu hanya mengenakan pakaian tidur yang sangat tipis sekali, sehingga setiap lekuk bentuk tubuhnya membayang begitu jelas sekali. Dan di balik pakaiannya yang tipis itu, dia tidak mengenakan apa-apa lagi.

Beberapa kali aku menelan ludah sendiri memandang keindahan tubuhnya. Sekujur tubukku mendadak saja jadi menggeletar seperti terserang demam, ketika dia menghampiri dan langsung melingkarkan kedua tangannya ke leherku.

“Ibu”. “Malam ini kau tidur di sini bersamaku.” “Eh, oh..?!” Belum lagi aku bisa mengeluarkan kata-kata lebih banyak, Ibu Cindy sudah menyumpal mulutku dengan pagutan bibirnya yang indah dan hangat menggairahkan.

Tentu saja aku jadi gelagapan, kaget setengah mati. Dadaku berdebar menggemuruh tidak menentu. Berbagai macam perasaan herkecamuk di dalam dada. Ragu-ragu aku memegang pinggangnya Ibu Cindy membawaku ke pembaringannya yang besar dan empuk Dia melepaskan baju yang kukenakan, sebelum menanggalkan penutup tubuhnya sendiri.

Dan membiarkannya tergeletak di lantai. Mataku seketika jadi nanar dan berkunang-kunang. Meskipun usia Ibu Cindy sudah hampir berkepala empat, tapi memang dia merawat kecantikan dan tubuhnya dengan baik.

Sehigga tubuhnya tetap ramping, padat dan berisi. Tidak kalah dengan tubuh gadis-gadis remaja belasan tahun. Bagaimanapun aku lelaki normal. Aku tahu apa yang diinginkan Ibu Cindy. Apa lagi aku tahu kalau sudah dua minggu ini suaminya berada di luar negeri. Sudah barang tentu Ibu Cindy merasa kesepian.

Ibu Cindy mendesis dan menggeliat saat ujung lidahku yang basah kian hangat mulai bermain dan menggelitik bagian ujung atas dadanya yang membusung dan agak kemerahan. Jari-jari tanganku tidak bisa diam.

Membelai dan meremas dadanya yang padat dan kenyal dengan penuh gairah yang membara, Bahkan jari-jari tanganku mulai menelusuri setiap bagian tubuhnya yang membangkitkan gairah. Aku melihat Ibu Cindy dan sudah tidak kuasa lagi menekan gairahnya.

Sesekali dia merintih dengan suara tertahan sambil mendesak-desakkan tubuhnya Mengajakku untuk segera mendaki hingga ke puncak kenikmatan yang tertinggi. Tapi aku belum ingin membawanya terbang ke surga dunia yang bergelimang kehangatan dan kenikmatan itu.

Aku ingin merasakan dan menikmati dulu keindahan tubuhnya dan kehalusan kulitnya yang putih bagai kapas ini.

“Aduh, oh. Ahh.., Cepetan dong, aku sudah nggak tahan nih..”, desah Ibu Cindy dengan suara rintihannya yang tertahan.

Ibu Cindy menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang putih dan mulus. Tapi aku sudah tidak bisa lagi merasakan kehalusan kulit pahanya itu. Karena sudah basah oleh keringat. Ibu majikanku itu benar-benar sudah tidak mampu lebih lama lagi bertahan.

Dia memaksaku untuk cepat-cepat membawanya mendaki hingga ke puncak kenikmatan. Aku mengangkat tubuhku dengan bertumpu pada kedua tangan. Perlahan namun pasti aku mulai menekan pinggulku ke bawah.

Saat itu kedua mata Ibu Cindy terpejam. dan bibirnya yang selalu memerah dengan bentuk yang indah dan menawan, mengeluarkan suara desisan panjang, saat merasakan bagian kebanggaan tubuhku kini sudah sangat keras dan berdenyut hangat mulai menyentuh dan menekan, mendobrak benteng pertahanannya yang terakhir.

Akhirnya batang penisku menembus masuk sampai ke tempat yang paling dalam divaginanya.“Okh, aah..!” Ibu Cindy melipat kedua kakinya di belakang pinggangku. Dan terus menekan pinggulku dengan kakinya hingga batang kebanggaanku melesak masuk dan terbenam ke dalam telaga hangat yang menjanjikan berjuta-juta kenikmatan itu.

Perlahan namun pasti aku mulai membuat gerakan-gerakan yang mengakibatkan Ibu Cindy mulai tersentak dalam pendakiannya menuju puncak kenikmatan yang tertinggi. Memang pada mulanya gerakan-gerakan tubuhku cukup lembut dan teratur Namun tidak sampai pada hitungan menit, gerakan-gerakan tubuhku mulai liar dan tidak terkendali lagi.

Beberapa kali Ibu Cindy memekik dan mengejang tubuhnya. Dia menggigiti dada serta bahuku. Bahkan jari-jari kukunya yang tajam dan runcing mulai mengkoyak kulit punggungku. Terasa perih, tapi juga sangat nikmat sekali. Bahkan Ibu Cindy menjilati tetesan darah yang ke luar dari luka di bahu dan dadaku, akibat gigitan giginya yang cukup kuat.

Dan dia jadi semakin liar, hingga pada akhirnya wanita itu memekik cukup keras dan tertahan dengan sekujur tubuh mengejang saat mencapai pada titik puncak kenikrnatan yang tertinggi. Dan pada saat yang hampir bersamaan, sekujur tubuhku juga menegang Dan bibirku keluar suara rintihan kecil.

Hanya beberapa detik kemudian aku sudah menggelimpang ke samping, sambil menghembuskan napas panjang. Ibu Cindy langsung memeluk dan merebahkan kepalanya di dadaku yang basah berkeringat. Aku memeluk punggungnya yang terbuka, dan merasakan kehalusan kulit punggungnya yang basah berkeringat.

Ibu Cindy menarik selimut, menutupi tubuh kami berdua. Aku sempat memberinya sebuali kecupan kecil dibibirnya, sebelum memejamkan mata. Membayangkan semua yang baru saja terjadi hingga terbawa ke dalam mimpi yang indah. Sejak malam itu aku kerap kali dipanggil ke dalam kamarnya.

Dan kalau sudah begitu, menjelang pagi aku baru keluar dari sana dengan tubuh letih. Semula aku memang merasa beruntung bisa menikmnati keindahan dan kehangatan tubuh Ibu Majikanku. Tapi lama-kelamaan, aku mulai dihinggapi perasaan takut. Betapa tidak, ternyata Ibu Cindy tidak pernah puas kalau hanya satu atau dua kali bertempur dalam semalam.

Aku baru menyadari kalau ternyata Ibu Majikanku itu seorang maniak, yang tidak pernah puas dalam bercinta di atas ranjang. Bukan hanya malam saja. Pagi, siang sore dan kapan saja kalau dia menginginkan, aku tidak boleh menolak. Tidak hanya di rumah, tapi juga di hotel atau tempat-tempat lain yang memungkinkan untuk bercinta dan mencapai kenikmatan di atas ranjang.

Aku sudah mulai kewalahan menghadapinya. Tapi Ibu Cindy selalu memberiku obat perangsang, kalau aku sudah mulai tidak mampu lagi melayani keinginannya yang selalu berkobar-kobar itu. Aku tetap jadi supir dan pengawal pribadinya. Tapi juga jadi kekasihnya di atas ranjang. Mungkin karena aku sudah mulai loyo, Ibu Cindy membawaku ke sebuah club kesegaran. Orang-orang bilang fitness centre.

Di sana aku dilatih dengan berbagai macam alat agar tubuhku tetap segar, kekar dan berotot. Dua kali dalam seminggu, aku selalu datang ke club itu. Memang tidak kecil biayanya. Tapi aku tidak pernah memikirkan biayanya. Karena ditanggung oleh Ibu Cindy. Dan di rumah, menu makananku pun tidak sama dengan pembantu yang lainnya.

Ibu Cindy sudah memberikan perintah pada juru masaknya agar memberikan menu makanan untukku yang bergizi. Bahkan dia memberikan daftar makanan khusus untukku. Terus terang, aku merasa tidak enak karena diperlakukan istimewa. Tapi tampaknya semua pembantu di rumah ini sudah tidak asing lagi.

Bahkan dari Bi Minah, yang tugasnya memasak itu aku baru tahu kalau bukan hanya aku yang sudah menjadi korban kebuasan nafsu seks Ibu Cindy. Tapi sudah beberapa orang pemuda seusiaku yang jadi korban. Dan mereka rata-rata melarikan diri, karena tidak tahan dengan perlakuan Ibu Cindy. Aku memang sudah tidak bisa lagi menikmati indahnya permainan di atas ranjang itu.

Apa lagi Ibu Cindy sudah mulai menggunakan cara-cara yang mengerikan, Untuk memuaskan keinginan dan hasrat biologisnya yang luar biasa dan bisa dikatakan liar. Aku pernah diikat, dicambuk dan di dera hingga kulit tubuhku terkoyak. Tapi Ibu Cindy malah mendapat kepuasan. Wanita ini benar-benar seorang maniak.

Dan aku semakin tidak tahan dengan perlakuannya yang semakin liar dan brutal. Meskipun kondisi tubuhku dijaga, dan menu makanankupun terjamin gizinya, tapi batinku semakin tersiksa. Beberapa orang pembantu sudah menyarankan agar aku pergi saja dan rumah ini. Rumah yang besar dan megah penuh kemewahan ini ternyata hanya sebuah neraka bagiku.

Aku memang ingin lari, tapi belum punya kesempatan. Tapi rupanya Tuhan mengabulkan keinginanku itu. Kebetulan sekali malam itu suami Ibu Cindy datang. Aku sendiri yang menjemputnya di bandara. Dan tentu tidak sendiri saja, tapi bersama Ibu Cindy. Di dalam perjalanan aku tahu kalau suami Ibu Majikanku itu hanya semalam saja.

Besok pagi dia sudah harus kembali ke Tokyo. Dari kaca spion aku melihat tidak ada gurat kekecewaan di wajah Ibu Cindy. Padahal sudah hampir sebulan suaminya pergi Dan kini pulang juga hanya semalam saja. Ibu Cindy malah tersenyum dan mencium pipi suaminya yang kendur dan berkeriput.

Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, aku bergegas ke kamar. Kesempatan bagiku untuk kabur dan rumah neraka ini. Karena Ibu Cindy sedang sibuk dengan suaminya. Aku langsung mengemasi pakaian dan apa saja milikku yang bisa termuat ke dalam tas ransel. Saat melihat buku tabungan, aku tersenyum sendiri.

Sejak bekerja di rumahi ini dan menjadi sapi perahan untuk pemuas nafsu Ibu Majikan, tabunganku di bank sudah banyak juga. Karena Ibu Wulandan memang tidak segan-segan memberiku uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Dan tidak sepeserpun uang yang diberikannya itu aku gunakan. Semuanya aku simpan di bank.

Aku masukan buku tabungan itu ke dalam tas ransel, diantara tumpukan pakaian. Tidak ada yang tahu kalau aku punya cukup banyak simpanan di bank. Bahkan Ibu Cindy sendiri tidak tahu. Karena rencananya memang mau kabur, aku tidak perlu lagi berpamitan. Bahkan aku ke luar lewat jendela. Malam itu aku berhasil melarikan diri dari rumah Ibu Cindy.

Terbebas dari siksaan batin, akibat terus menerus dipaksa dan didera untuk memuaskan nafsu birahinya yang liar dan brutal. Tapi ketika aku lewat di depan garasi, ayunan langkah kakiku terhenti. Kulihat Bi Minah ada di sana, seperti sengaja menunggu. Dadaku jadi berdebar kencang dan menggemuruh.

Aku melangkah menghampiri. Dan Wanita bertubuh gemuk itu mengembangkan senyumnya.

“Jangan datang lagi ke sini. Cepat pergi, nanti Ibu keburu tahu..”, kata Bi Minah sambil menepuk pundakku.

Terima kasih, Bi”, ucapku. Bi Minah kembali tersenyum. Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku bergegas meniggalkan rumah itu. Aku langsung mencegat taksi yang kebetulan lewat, dan meminta untuk membawaku ke sebuah hotel.

Untuk pertama kali, malam itu aku bisa tidur nyenyak di dalam kamar sebuah hotel. Dan keesokan harinya, setelah mengambil semua uangku yang ada di bank, aku langsung ke stasiun kereta. Aku memang sudah bertekad untuk kembali ke desa, dan tidak ingin datang lagi ke Jakarta.

Dari hasil tabunganku selama bekerja dan menjadi pemuas nafsu Ibu Cindy, aku bisa membuka usaha di desa. Bakkan kini aku sudah punya istri yang cantik dan seorang anak yang lucu. Aku selalu berharap, apa yang terjadi pada diriku jangan sampai terjadi pada orang lain.

Kemewahan memang tidak selamanya bisa dinikmati. Justru kemewahan bisa menghancurkan diri jika tidak mampu mengendalikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*