Candu Cerita Sex Pesta Yang Pecah | Candu Sex
VIMAX
Agen Capsa
Bandar Q agen bandarq online bandar sakong bandar sakong bandarq online
Home » Cerita Sex Party » Candu Cerita Sex Pesta Yang Pecah

Candu Cerita Sex Pesta Yang Pecah

Bandar Sakong

Cerita Sex Pesta Yang Pecah.  Hujan yang terus mengguyur membuat Nadine masih bermalasan di atas kasur dengan selimut tebalnya, terlihat pintu kamarnya juga tertutup, dari nafas yang tak beraturan dan terburu buru terlihat sedikit bagian tubuhnya yang terlihat bugil tanpa busana hanya berselimut yang tampak dari luar,

Cerita Sex Pesta Yang Pecah

 Cerita Sex Pesta 2017, ngentot Pesta 2017, tempek Pasangan Gay 2017, Pesta ngesex 2017, Pesta dientot 2017, kentu Pesta 2017, Pesta hot 2017, cerita Pesta Sex 2017

Erangan demi erangan terdengar dari suara Nadine, memang dia sedang telanjang tubuhnya yang mengelinjang akibat ada dildo yang menusuk nusuk ke vaginanya, buah dadanya yang berukuran 36 lengkap dengan putingnya yang kenyal membengkak menggairahkan. Lendir kawinnya sudah menggenang di sprei kasur. Tepat diatas lendir itu pussy Nadine yang besar berbulu tipis merekah disodok batang dildo ukuran L.

“Uahh..”Orgasme telah diraihnya. Nadine terlentang lemas. Batang dildo itu masih menancap di pussy-nya. Enggan rupanya Nadine mencabutnya.

Matanya terpejam, nafasnya masih terengah-engah. Tiba-tiba dering telpon mengganggunya.“Kring.. kring..”

“Hallo..” Nadine menerima telpon sambil menjilati ujung dildo yang barusan bersarang di pussy nya.“Nadine, hujan-hujan gini enaknya ngapain?” tanya suara di seberang.“Enaknya dikelonin kamu,” jawab Nadine sekenanya.

“Hi.. hi.. kalau gitu, kamu saya undang deh. Sekarang ke Star Pub deh, kita tunggu. Jangan lupa be a sexy girl, okey?”“Klik..”Nadine segera meletakkan gagang telepon di induknya.

Nadine masuk ke dalam café kecil itu. Pintu masuk café nampak tertulis “CLOSE”, tapi tidak bagi anggota pub. Suasana di café sepi, tapi sayup-sayup Nadine mendengar gemuruh tawa di lantai atas. Nadine segera menuju ruang atas. Begitu Nadine masuk beberapa anggota lain segera menyambutnya.

“Hai Nadine,” sapa Sidney yang hanya memakai CD transparan sedangkan susunya yang sekal bergelantungan dengan bebas.

“Hai, makin motok saja susumu,” balas Nadine sambil meremas susu kiri Sidney.“Saya baru main sama Leo,” ujar Sidney menunjuk pria tegap telanjang yang duduk jongkok di sudut ruangan. Pistolnya mengayun-ayun tegang sejak tadi.

“Hai Nadine, kita sudah nunggu kamu dari tadi loh,” sapa Sari yang memakai CD merah dan BH hitam, kontras banget tapi seksi banget. Kemudian mereka saling berciuman beberapa menit. Sembari berciuman, tangan Nadine sudah nakal menyusup ke CD Sari.

“Kamu baru aja cukur ya?” tanya Nadine ketika jemarinya merasakan bulu-bulu pussy Sari.Sari tersenyum malu.“Nggak pa-pa lagi, rasanya malah geli-geli nikmat. Hi.. hi..,” Sari tertawa cekikikan lalu berlalu.

Mata Nadine memedar berbinar-binar ke seluruh ruangan. Ada dua belas orang di ruangan itu. Kesemuanya saling bersaing memperlihatkan keseksian tubuhnya. Wita memakai bikini putih tipis sehingga puting susunya nampak menyembul menggoda. Lia cantik banget malam itu, rambut panjangnya meriap-riap seksi.

Apalagi Lia memakai CD putih berenda dan BH putih yang kelihatan puting susunya karena dilubangi pada bagian putingnya, Nadine bener-bener pingin melumat susunya. Maka Nadinepun segera mendekati Lia“Li, kamu cantik sekali malam ini.”

Sapa Nadine sambil mempermainkan puting susu Lia yang sengaja disembulkan itu.“Inikan maksud kamu? Kalau kamu mau, isep aja.” Bagai gayung tersambut.

“Ntar kamu main sama aku yah?”Lia mengangguk lalu pergi menghampiri Si ganteng Titus yang pakai CD pink, sejak tadi pistolnya tegang terus melihat pemandangan yang merangsang itu.

Jude (tokoh: Jude, Guru Privatku) memakai BH yang ketat banget hingga susu “Pamela Anderson” nya bagai berebut ingin keluar kain tipis itu, sedang pussynya dibiarkan saja dipelototin sama Timbul yang sejak tadi penny nya pingin menerobos jaring tipisnya.

Ayu yang pakai daster pendek transparan tanpa CD dan BH memamerkan pahanya di atas meja. Hanya orang nggak waras saja yang nggak berminat sama paha mulusnya.

Laraslah yang paling sexy, doski hanya mengenakan stocking hitam sebatas paha dan duduk dengan santainya sambil memamerkan pussynya yang berambut tipis. Pengen banget Nadine melumat klitoris mungil Laras.

Nadine sendiri memakai CD tipis bertali dan BH bertali yang hanya menutup nipplesnya saja. Sedang Mbak Riani sang ketua party yang polos los sedang sibuk menjilati dildo barunya. Begitu melihat Nadine datang Mbak Riani segera menepuk tangannya bertanda party akan segera dimulai. Semuanya segera berkumpul di tengah ruangan.

“Nah, gimana nih? Siapa yang pengin main duluan?” ujar Mbak Riani membuka acara.“Saya!” Ayu menunjuk jari.

“Kebetulan Ayu, sudah lama kita nggak liat lagi tarian pecut asmaramu itu.” Sambut si Titus.“Okey, Cin, nyalakan tapenya!” kata Ayu.

Laras segera menyalakan tape recorder kecil. Lalu terdengar suara music yang memancarkan suasana erotic bagi siapa saja yang mendengarnya. Ayu segera berdiri di tengah lalu menari mengikuti suara tape recorder.

Tarian gemulai itu semakin memancing hasrat, Ayu memang bekas penari latar yang piawai. Nadine yang sudah sejak tadi menahan birahinya tanpa sadar meremas-remas susunya sendiri. Apalagi kemudian Ayu meminta Titus melucuti onderdil nya. Maka seperti diberi aba-aba yang lain segera melucuti pakaian milik pasangan yang dipilihnya.

Dengan segera Titus mendorong Ayu untuk berbaring lalu Titus segera melumat bibir kenyal Ayu penuh nafsu sedang tangannya meremas-remas penisnya sendiri. Jude yang sudah terbakar segera ikut melumat susu kiri Ayu disusul oleh Laras yang kebagian susu kanannya.

Nadine sendiri segera menyusup ke selakangan Ayu yang terbuka. Lalu dengan semangat Nadine mengerjain pussy Ayu. Dijilatinya pussy Ayu yang sudah penuh dengan lelehan lendir kawinnya. Lalu diobok-oboknya liang vagina Ayu dengan jarinya.

“Aaghh..,” erang Ayu dan Nadine bersamaan karena saat itu Titus sudah menyodokkan pistolnya ke pussy Nadine dari belakang. Posisi Nadine yang menungging membuat Titus semakin mudah menancapkan senjata pamungkasnya.

Sedang posisi Titus sebelumnya sudah digantikan oleh Mbak Riani yang menyekokkan nipplesnya ke mulut mungil Ayu.

Di sudut lain, Timbul yang setengah menungging sedang mengerang-erang keenakan ketika diserbu dari dua arah. Sidney yang mengganyang pistolnya dari depan dan Leo yang menyodomi pantatnya. Sedangkan di sisi lain Lia, Wita dan Sari bergumul sendiri.

Lia dan Wita saling memagut susu lawan mainnya sedang Sari menyerang pussy Lia yang posisinya terlentang. Beberapa kali dildo masuk keluar pussy Lia dengan mudah lalu bergoyang-goyang membuat Lia bergelinjangan keenakan. “Agh.. enak.. terus Sar..,” erang Lia.

Titus masih memainkan pistolnya di pussy Nadine. Pantat Nadine bergoyang-goyang naik turun mengikuti gerakan penis Titus. Berulang kali Nadine mencapai puncak asmaranya, berulang kali pula mani Titus muncrat ke liang vaginanya.

Tapi mereka masih ingin mengulangi dan mengulanginya lagi.“Titus, saya mau keluar lagi Titus.. oh.. enghh..,” rintih Nadine.“Kita keluar sama-sama yah, yang..

”Kemudian Titus semakin memperkuat tekanan batang penisnya keliang vagina Nadine, sehingga tidak lama setelah itu muncratlah air mani Titus ke dalam vagina Nadine bersamaan dengan keluarnya cairan kawin Nadine.“Engg.. ah..,” jerit Titus dan Nadine bebarengan.

Nadine tergeletak di atas karpet. Wajahnya sudah nampak kepayahan, tapi birahinya belum terpuaskan. Titus sudah meninggalkannya untuk mencari petualangan lain. Mata Nadine memandang sayu kepada Lia yang berdiri di atasnya.

Susu Lia yang sudah sangat bengkak membuat Nadine ingin sekali mengunyah nipplesnya yang tegang kecoklat-coklatan. Pussy Lia yang berbulu agak lebat nampak mengkilap basah oleh lendir kawinnya. Lia tahu betul kalau Nadine menginginkannya.

Dia segera merunduk dan menyerahkan susunya untuk dilumat oleh Nadine. Nadine melumat susu dan bibir Lia secara bergantian. Tangannya pun agresif menyusuri lorong goa vagina Lia, memelintir klitoris Lia berkali-kali. Lalu masuk dalam dan semakin dalam membuat Lia makin terlena.“Kamu.. enak banget.. egh..,” rintih Lia.

Nadine mendesis-desis, nafasnya menghembus di bukit montok Lia membuat Lia semakin terbakar. Tapi Nadine juga kembali terbakar ketika Sari datang dan menghisap puting susu Nadine. Lia juga berebut mencaplok susu kanan Nadine.

Nadine merem melek manahan semua rasa syur yang tercipta. Semakin syur ketika Leo menjejalkan penisnya yang besar dan tegang banget ke mulutnya.“Isep sayang.. ayo..”Nadine menghisap penis Timbul. Menggigit-gigit nakal membuat Timbul melenguh-lenguh keasyikan. Timbul menekan pistolnya dan maninya muncrat ke dalam mulut Nadine.

Nadine menelan lendir itu hingga tandas. Segala keindahan terasa ketika entah lidah siapa lagi yang menggerayangi pussy Nadine. Hingga ia merasa tubuhnya dijunjung ke atas dan..,“Augh..”Sebatang daging tegang kembali bersarang di pussy Nadine.

Kembali dialaminya orgasme yang dialaminya bersamaan dengan si pemilik pistol.“Ehg.. kau hebat banget Nadine, hebat! Makasih ya..”Itu suara Leo.“Bajingan! Mau nyodok nggak bilang-bilang!” umpat Nadine dalam hati.

Lalu semua yang tadi ngerjain Nadine pergi ngerjain yang lain. Nadine tidak lagi memperhatikan orang-orang disekelilingnya. Rasa capeknya telah membawanya terlelap. Dua jam pun berlalu, suasana hening. Party itu sudah selesai, pemain-pemainnya sudah terlelap tidur.

Nadine yang terbangun paling awal. Dipandangi sekelilingnya dengan senyum simpul. Semua dalam keadaan telanjang bulat, termasuk dirinya. Berbagai CD dan BH berserakan berserakan dimana-mana Pantat Sari merah bengkak begitu juga puting susu Ayu.

Nadine tersenyum sendiri melihat ujung susu si bule Jude yang masih dikenyot Titus. Pantat Sidney juga memerah, mungkin karena di kerjain sama temen-temen yang lain. Dalam party itu tidak hanya cowok saja yang disodomi, cewek juga bisa disodomi.

Yang paling suka menyodomi cewek, ya.. si Timbul itu. Nadine berpaling kepada Mbak Riani. Wajah Mbak Riani penuh dengan mani dan lendir vagina yang mulai mengering. Ruangan itu menebarkan aroma mani dan lendir vagina yang khas.

Mata Nadine tertuju pada Laras. Gadis itu masih terlelap. Kadangkala mengigau sambil senyum-senyum sendiri. Wajah gadis itu cantik. Tubuhnya kecil tapi susunya montok bener. Vaginanya polos tanpa bulu, warnanya putih kemerahan seperti pipi gadis yang sedang malu. Klitorisnya mungil menyembul. Gairah Nadine kembali bangkit.

Nadine berjongkok di depan Laras kemudian memainkan jemarinya di atas vagina yang merekah itu. Dengan penuh nafsu segera dilumatnya klistoris yang sejak awal tadi membuatnya ngiler itu. Laras menggeliat-geliat, tapi Nadine tak perduli.

Bibir Nadine melumat gundukan vagina Laras sedang kedua tangannya menggapai meremas-remas daging kenyal nan montok di dada Laras. Antara sadar dan tidak Laras menjamak-jaMbak rambut Nadine dan menjepit kepalanya dengan kedua pahanya.

“Ah.. uh.. ah.. uh..,” suara Laras mendesis lirih.Nafas keduanya kembali memburu. Nadine menumpahkan segala birahi yang tersisa di kepalanya. Seakan-akan Laras itu hanya miliknya sendiri. Laras dipaksa untuk bangun dari lelapnya.

Matanya memicing merasakan surga yang kembali datang untuknya. Tapi Laras sudah tak punya daya untuk membalas. Ia pasrah saja ketika Nadine menjejalkan sebatang dildo masuk ke dalam liang vaginanya.

“Sruup..”Tanpa banyak perlawanan pistol mainan itupun amblas ke dalam liang kenikmatan Laras. Cindi sempat terpekik beberapa kali, tapi lemah, rupanya dia sudah tak punya daya kecuali menikmati permainan Nadine.

Nadine menarik si dildo maju mundur beberapa kali. Pantat Laras bergoyang mengikuti iramanya. Makin lama dildo itu bergerak makin cepat.“Sruup.. sruup..”Suaranya menyibak lendir-lendir kental yang keluar dari vagina Laras. Mata Nadine berbinar memandangi vagina bermandikan lendir itu. Langsung ia merunduk dan“Sruup..”Dihisapnya si lendir dari pussy Laras hingga tandas.

“Ah, puasnya..,” kata Nadine dalam hati. Dikecupnya kening Laras yang tak sadarkan diri. Kemudian dia segera pergi dari tempat itu dengan senyum penuh kepuasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*