Candu Cerita Sex Melepas Ketegangan | Candu Sex
VIMAX
Agen Capsa
Bandar Q agen bandarq online bandar sakong bandar sakong bandarq online
Home » Cerita Sex Kiriman Pembaca » Candu Cerita Sex Melepas Ketegangan

Candu Cerita Sex Melepas Ketegangan

Bandar Sakong

Cerita Sex Melepas Ketegangan. Perusahaanku goal untuk sebuah proyek yang mana terletak di Bandung, proyek tersebut adalah BUMN, Kantor saya di lantai 3, di lantai 1 gedung ini terdapat sebuah toko milik koperasi pegawai BUMN ini yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, mirip swalayan kecil. Ada 3 orang pegawai koperasi yang melayani toko ini, 2 diantaranya cewek. Seorang sudah berkeluarga, satu lagi single berusia 21 tahun, luAnan cantik, putih, mulus, dan mungil, sebut saja namanya Riska.

Cerita Sex Melepas Ketegangan

 cerita sex ngentot, cerita ngentot terbaru, cerita orang ngentot, kumpulan cerita ngentot, ngentot cerita, cerita hot ngentot, cerita nyata ngentot, koleksi cerita ngentot, cerita ngentot baru, kumpulan cerita ngentot terbaru

 

Awalnya, saya tak ada niat “mengganggu” Riska, saya ke toko ini karena memang butuh makanan kecil dan rokok. Riska menarik perhatian saya karena paha mulusnya “diobral”. Roknya selalu model mini dan cara duduknya sembarangan. CD-nya sempat terlihat ketika ia jongkok mengambil dagangan yang terletak di bagian bawah rak kaca etalase. Saya jadi punya niat mengganggunya (dan tentu saja ingin menyetubuhinya) setelah tahu bahwa Riska ternyata genit dan omongannya “nyrempet-nyrempet”.

Niat saya makin menggebu setelah Riska tak menunjukkan kemarahan ketika beberapa kali saya menjamah paha mulusnya dan bahkan sekali saya pernah meremas buah dadanya. Paling-paling ia hanya menepis tangan saya sambil matanya jelalatan khawatir ada orang yang melihatnya. Tentu ini ada “ongkosnya”, yaitu saya tak pernah minta uang kembalian.

Agar bisa bebas menjamah, saya pilih waktu yang tepat jika ingin membeli sesuatu. Ternyata pada pagi hari ketika toko baru buka atau sore hari menjelang tutup adalah waktu-waktu “aman” untuk mengganggunya. Kenakalan saya makin meningkat. Mulanya hanya mengelus-elus paha, kemudian meremas buah dada (masih dari luar), terus menyusupkan tangan ke BH (kenyal, tak begitu besar sesuai dengan tubuhnya yang sedang), lalu menekan-nekan penis saya yang sudah tegang ke sepasang bulatan pantatnya yang padat. Bahkan Riska sudah “berani” meremas penis saya walau dari luar.

Entah kenapa Riska mau saja saya ganggu. Mungkin karena saya memakai dasi sehingga saya dikiranya manager di BUMN ini, padahal saya hanya staf biasa di perusahaan saya. Aturan perusahaan memang mengharuskan saya pakai dasi jika kerja di kantor klien. Saya makin penasaran. Saya harus bisa membawanya, menggeluti tubuhnya yang padat mulus, lalu merasakan vaginanya. Mulailah saya menyusun rencana.

Singkatnya, Riska bersedia saya ajak “jalan-jalan” setelah jam kerjanya, pukul 5 sore. Tentang waktu ini menjadi masalah. Walaupun jam kerja resmi saya sampai pukul 5 sore, tapi saya jarang bisa pulang tepat waktu. Seringnya sampai jam 7 atau 8 malam. Saya coba menawar jamnya agak malam saja. Tak bisa, terlalu malam kena marah mamanya, katanya. Okelah, nanti cari akal mencuri waktu. Pada hari yang telah disepakati, Riska akan menunggu di jalan “D” pukul 17.10. Dari kantor ke jalan “D” memang makan waktu 10 menit jalan kaki.

Pukul lima seperempat saya sudah sampai di jalan D. Saya lihat Riska berdiri di tepi jalan, tapi tak sendirian. Bu Ana, kawan sekerjanya yang telah berkeluarga ada di sampingnya. Celaka! Tadi Riska bilang sendirian, kalau bawa orang lain bisa terbongkar belang saya oleh kawan kantor. Hal ini sangat saya hindari.

“Bu Ana cuma mau nebeng sampai halte”, kata Riska seolah mengetahui kekhawatiran saya, syukurlah.

Tapi peristiwa ini harusnya tak seorangpun boleh tahu.

“Tenang aja Mas, rahasia dijamin, ya Riska”, kata Bu Ana sambil mengedip penuh arti.

Setelah menurunkan Bu Ana di halte, saya langsung mengarah ke Setia Budi. Kalau sudah ada cewek duduk di samping saya, seperti biasa mobil saya langsung cari hotel, wisma, guest-house, atau apapun namanya yang bertebaran di daerah Setia Budi. Daerah yang sudah beken di antara para peselingkuh, sebab sebagian besar tempat-tempat tadi menyediakan tarif khusus, tarif “istirahat” antar 3-6 jam, 75% dari room-rate.

Riska membiarkan tangan saya mengelus-elus pahanya yang makin terbuka ketika duduk di mobil. Penis saya mulai bangun membayangkan sebentar lagi saya bakal menggeluti tubuh mulus padat ini.

“Ke mana Mas?” tanya Riska ketika saya menghidupkan lampu sein ke kanan mau masuk ke sebuah hotel.

”Kita cari tempat santai” jawabku.

”Jangan ah. Lurus aja”

“Ke mana?” saya balik bertanya.

“Kata Mas tadi mau jalan-jalan ke Lembang”

Saya jadi ragu. Selama ini Riska memberi sinyal “bisa dibawa”, tapi sekarang ia menolak masuk hotel. Tangan saya kembali ke pahanya, bahkan terus ke atas meraba CD-nya.

“Ih, Mas… dilihat orang” sergahnya menepis tangan saya.

Memang pada waktu yang bersamaan saya menyalip motor dan si pembonceng sempat melihat kelakuan tangan saya. Kami sampai di Lembang. Saya bingung. Tadi sewaktu saya mau belok kiri ke hotel lagi-lagi Riska menolak. Mau ngapain di Lembang? Ke Maribaya? Ah, itu tempat wisata, susah untuk “begituan”. Lebih baik mampir dulu buat minum sambil mengatur taktik.

“Kita minum dulu ke sini, ya?” ajakku untuk mampir di tempat minum susu segar yang biasa ditongkrongi anak-anak muda.

“Mau minum susu? Enggak ah. Mendingan minum susu Riska aja” Saya tak heran, bicaranya memang suka “nyrempet”.

“Boleh…” kata saya sambil memindahkan tangan saya dari paha ke belahan kemejanya, menyusup ke balik BH-nya, meremas.

Tak ada penolakan. Daging bulat yang ‘mengkal’. Tak begitu besar tapi padat. Puting yang hampir tak terasa, karena kecil. Celana saya terasa sesak. Sampai di perempatan saya harus ambil keputusan mau ke mana? Lurus ke Maribaya. Kanan kembali ke Setia Budi. Kiri ke arah Tangkuban Perahu.

Saya lepas tangan saya dari “susu segar” Riska, saya belok kiri. Tangan Riska saya raih saya letakkan di selangkangan saya, lalu tangan saya kembali ke susu segarnya. Tangannya memijit-mijit penis saya (dari luar). Berbahaya sebenarnya. Kondisi jalan yang penuh tikungan dan tanjakan sementara konsentrasi tak penuh.

Hari mulai gelap, saya belum menemukan solusi masalah saya, di mana saya akan menggumuli Riska? Di tepi kanan jalan ke arah Tangkuban Perahu itu banyak terdapat kedai-kedai jagung bakar. Saya belokkan mobil saya ke situ, mencari tempat parkir yang mojok dan gelap.

“Mau makan jagung?”, tanyanya.

“Iya”, jawabku. Makan “jagung”-mu.

Saya periksa keadaan sekeliling mobil. Gelap dan sepi. Segera saya rebahkan jok Riska sampai rata, saya serbu bibirnya. Riska menyambut dengan permainan lidahnya. Tangan saya kembali meremasi bukit kecil kenyal itu sambil secara bertahap mencopoti kancing kemejanya. Riska melepaskan ciuman, bangkit, memeriksa sekeliling.

“Jangan khawatir, aman” kata saya.

“Mau minum susu?”, tawarnya.

Tawaran yang naif, sebab jawabannya begitu jelas. Riska menarik sendiri sepasang ‘cup’-nya ke atas sehingga sepasang bukit putih itu samar-samar tampak. Dengan gemas saya lumat habis-habisan buah dadanya. Sekarang tonjolan putingnya lebih jelas, karena mengeras. Tangan saya menyusup ke balik CD-nya. Rambut kelaminnya yang tak begitu lebat itu saya usap-usap. Sementara ujung telunjuk saya memencet clitorisnya.

“Aaahh…” desahnya.

Tangannya saya tuntun ke selangkangan saya. Ia meremas.

“Buka kancingnya Ris” Riska menurut, dengan agak susah ia membuka kancing, menarik resleting celana saya dan “mengambil” penis saya yang telah keras tegang.

Beberapa menit kami bergumul dengan cara begini. Sampai ketika ujung jari saya mulai masuk ke “pintu” vaginanya, Riska berontak, bangkit, lagi-lagi mengecek keadaan. Di depan terlihat 2 orang pejalan kaki menuju ke arah kami. Riska cepat-cepat mengancingkan kemejanya, kutangnya belum sempat dibereskan. Sementara saya kembali ke tempat saya.

Penis saya masih saya biarkan terbuka berdiri tegak. Toh tidak akan kelihatan. Kami berlagak alim sampai kedua orang itu lewat. Kembali kami bergumul. Ketegangan saya yang tadi sempat turun oleh gangguan orang lewat, kini naik lagi. Pintu vagina Riska pun sudah basah. Saatnya untuk mulai. Saya pelorotkan CD Riska. Tapi, masa saya tembak di mobil? Rupanya Riska berpikiran sama.

“Jangan Mas… banyak orang”

“Makanya… kita cari tempat ya…”

Riska berberes sementara saya menstart mobil. Saya menyetir dengan posisi penis saya tetap terbuka tegang.

“Si joni udah engga tahan ya” goda Riska.

“Iyaa… sini…” saya raih tangannya menuju ke penis saya. Dielus-elus.

Tempat terdekat yang sudah saya kenal adalah Hotel “Kh”, sedikit di bawah Lembang. Dari jalan raya saya belokkan mobil saya masuk ke lorong jalan khusus ke hotel Kh.

“Hee… stop… stop Mas…” serunya.

“Lho… kita kan cari tempat”, saya menginjak rem berhenti, Riska diam saja.

“Di sini aman deh Ris”

“Udah malem Mas. Lain kali aja ya?” Saya mulai jengkel, si “Joni” mana mau mengerti lain kali.

“Ayolah Ris, sebentar aja, sekali aja…”

“Maaf Mas, lain kali aku mau deh, bener. Sekarang udah kemaleman. Aku takut dimarahin Mama”, Saya diam saja, jengkel.

“Bener Mas, lain kali aku mau” katanya lagi meyakinkan saya.

Saya mengalah, toh masih banyak kesempatan. Kami kembali menuju Bandung, kira-kira 100m sebelum hotel GE, kembali saya membujuk Riska untuk mampir. Lagi-lagi Riska menolak sambil sedikit ngambek. Saya terus tak jadi mampir.

Sampai di jalan lurus menjelang terminal Ledeng, macet sekitar seratusan meter. Tempat ini memang biasa macet. Selain keluar/masuknya angkot, juga ada pertigaan jalan Sersan Bajuri. Iseng mengantre, saya ambil tangan Riska ke penis saya yang masih belum “saya simpan”, Riska menggosoknya. Lepas dari kemacetan tiba-tiba Riska memberi tawaran yang nikmat.

“Mau dicium?”

“Dengan senang hati”

Segera saja Riska membungkuk melahap penis saya yang sudah tegang lagi. Kepalanya naik turun di pangkuan saya. Nikmatnya… Baru kali ini saya menyetir sambil dikulum. Saya memperlambat jalan mobil saya, menikmati kulumannya sambil mata tetap mengawasi kendaraan lain. Sementara rasa nikmat menyelimuti bawah badan saya, deg-degan juga dengan kondisi yang “aneh” ini. Sampai di pertigaan jalan Panorama macet lagi. Situasi ramai. Saya minta Riska melepas kulumannya, banyak orang lalu-lalang.

Lepas dari kemacetan kembali Riska memainkan lidahnya di leher penis saya. Ada untungnya juga jalanan macet. Saya punya waktu untuk menurunkan tensi sehingga bisa bertahan lama. Oohh… sedapnya lidah itu mengkilik-kilik leher dan kepala kelamin saya. Nikmatnya bibir itu turun naik menelusuri seluruh batang penis saya. Sayangnya, saya harus membagi konsentrasi saya ke jalan. Menjelang pertigaan Cihampelas Riska melepas jilatannya, bangkit melihat sekeliling.

“Sampai di mana nih?” tanyanya terengah.

“Hampir Cihampelas” jawabku.

“Mampir ke Sultan Plaza ya Mas”

“Mau ngapain?”.

“Mama tadi pesan”.

Oke, mendadak saya ada ide untuk melepaskan ketegangan selepas-lepasnya tanpa terpecah konsentrasi. Saya masuk ke Plaza, cari tempat parkir yang aman, di belakang bangunan. Sengaja saya pilih tempat yang gelap. Saya cegah Riska membuka pintu hendak turun.

“Oh ya, sini Riska rapiin” saya tarik kepala Riska begitu ia membungkuk akan merapikan celana saya.

“Terusin Ris…” perintahku.

Riska bangkit lagi. Saya kira ia mau menolak, taunya hanya melihat sekeliling. Aman. Kembali kepala Riska turun naik mengulum penis saya. Kini saya bisa konsentrasi ke rasa nikmat di ujung penis. Riska memang pintar berimprovisasi. Kelihatannya ia sudah biasa beroral seks.

Lidahnya tak melewatkan seincipun batang kemaluan saya. Kadang ditelusuri dari ujung ke pangkal, kadang berhenti agak lama di “leher”. Kadang bibirnya berperan sebagai “bibir” bawahnya, menjepit sambil naik-turun. Terkadang nakal dengan sedikit menggigit. Saya bebas saja mendesah, melenguh, atau bahkan menjerit kecil, tempat parkir yang luas itu memang sepi. Ketika mulutnya mulai melakukan gerakan “hubungan kelamin”, perlahan saya mulai “naik”, rasa geli-geli di ujung sana semakin memuncak. Saatnya segera tiba.

“Dicepetin Ris…” Riska bukannya mempercepat, malah melepas.

“Uh, pegel mulutku mas ”

“Sebentar lagi Ris…”

Kembali ia melahap. Kali ini gerakan kepalanya memang cepat. Saya menuju puncak. Riska makin cepat. Sebentar lagi.., hampir..! Riska mempercepat lagi, sampai bunyi. Hampir.., hampir.., dan “Croott”, Saya keluarkan mani saya ke dalam mulut Riska. Saya melayang.

“Uuhh” Riska melepaskan kulumannya, “Crot..” kedua dan seterusnya ke celana dan perut saya.

“Iihh… enggak bilang mau keluar… jijik” katanya sambil mencari-cari tissu.

Saya rebah terkulai. Sementara Riska membersihkan mulutnya dengan tissu. Beberapa saat kemudian.

“Yuk Mas, turun”

“Entar dong…” saya bersih-bersih diri, celaka! noda yang di celana tak bisa hilang.

“Kamu sendiri deh”

“Sama Mas dong…”

“Ini.. nggak bisa ilang”, kata saya sambil menunjuk noda itu.

“Bajunya nggak usah dimasukin”, sarannya. Betul juga.

Akhirnya saya membayar belanjaan Riska. Saya diminta ikut belanja karena maksudnya memang itu. Saya juga memberinya uang dengan harapan agar lain kali bisa saya setubuhi.

Esoknya ketika saya membeli rokok, Riska kelihatan biasa saja tak berubah. Masih genit dan sedikit manja. Peristiwa semalam tak mengubah perilakunya. Saya makin penasaran ingin menidurinya. Pernah suatu pagi sekali tokonya belum buka tapi Riska sudah datang sendirian sedang merapikan barang-barang, saya keluarkan penis saya yang sudah tegang karena sebelumnya meremas dadanya. Saya minta Riska mengulumnya di situ.

“Gila..! entar ada orang”

“Belum ada.. ayo sebentar aja”

Dia pun mengulum sambil was-was. Mata saya pun jelalatan memperhatikan sekeliling. Kuluman sebentar, tapi membuat saya exciting. Setiap ada kesempatan untuk pulang jam 5, saya selalu mengajak Riska. Beberapa kali ia menolak, macam-macam alasannya. Sedang mens, mau ngantar adik, ditunggu mamanya. Sayang sekali, sampai Riska pindah kerja saya tak berhasil menidurinya.

Tapi kemarin, setelah hampir 2 tahun, saya ketemu Riska di BIP berdua dengan teman cewek. Dia rupanya sudah tidak bekerja di toko koperasi itu lagi, sekarang kerja di Bagian Administrasi di sebuah Guest House. Jelas saya mencatat nomor teleponnya. Letak tempat kerjanya tak jauh dari kantor itu. Hanya, kemungkinan ketemu kecil, sebab proyek saya di kantor itu telah selesai. Saya penasaran!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*