Candu Cerita Sex Lesbi Anak SMP | Candu Sex
VIMAX
Agen Capsa
Bandar Q agen bandarq online bandar sakong bandar sakong bandarq online
Home » Cerita Sex Lesbi » Candu Cerita Sex Lesbi Anak SMP

Candu Cerita Sex Lesbi Anak SMP

Bandar Sakong

Cerita Sex Lesbi Anak SMP. Awalnya Ana yang sedang duduk manis di atas kursi, dibawahnya ada Ema yang sedang mengerjakan tugas dari skeolahan, Ana bertanya kepada Ema tugasnya sampai mana , udah selesai belum.

Cerita Sex Lesbi Anak SMP

cerita sex Lesbi, Ngentot Lesbi, Lesbi Mesum, cerita hot Lesbi, cerita Lesbi hot, kumpulan cerita Lesbi hot, cerita x Lesbi, cerita seks Lesbi, cerita Lesbi haus

Ni sedikit lagi mau selesai sambil menoleh ke wajah Ana,

Ana yang dari tadi mememrhatikan wajah Ema memang sungguh cantik walau masih kelas satu SMP tubuh Ema sudah bongsor seperti kelas 1 SMA , dengan rambut pendeknya dan buah dada yang sudah menjulang naik.

Rupanya Ana dia tidak tertatik dengan pria , melainkan dis suka dengan sesame jenis maka dari itu si Ema diperbolehkan untuk belajar bersama dengannya, Ana juga orangnya cantik dengan rambut panjang, Ana adalah kakak kelas dari Ema , Ana orangnya pintar diantara murid lainnya, lha disini Ema meminta bantua Fani untuk belajar karena besok mau ujian. cerita sex Lesbi

Dari sini kesempatan Ana tidak disia siakannya langsung mengiyakan permintaan Ema untuk member pelajaran pada dirinya.

Ana menatap Ema yang mengacungkan buku di depannya sambil tersenyum, lesung pipitnya tercetak begitu dalam di pipinya yang putih mulus itu, membuat wajahnya menjadi semakin menggemaskan.

Sambil menyambar buku itu, Ana membuang jauh-jauh pikirannya yang melayang ke mana-mana, “Sini aku periksa!” tukasnya.

Hampir selesai Ana memeriksa pekerjaan “muridnya” ini ketika mendadak ibunya muncul di ruang tamu menjelaskan bahwa ia akan menyusul ayah Ana ke kantor sambil membawa adik Ana yang masih kecil, lalu dari sana langsung pergi ke Sukabumi karena ada saudara mereka yang sakit keras.

Ana diminta menjaga rumah baik-baik bersama Iroh, sang pembantu rumah tangga. Telah terdidik mandiri sejak kecil, Ana tak merasa berat dengan keadaan ini. Ngentot Lesbi

Tak lama, ibu dan adiknya pergi naik taksi dan Ana pun menyelesaikan memeriksa latihan Ema. “Lumayan, cuma satu yang salah.

Lu cepet ngerti juga ya, Em?” kata Ana. Ema tersenyum malu-malu mendengar pujian ini, lalu pamit untuk pulang karena hari sudah menjelang malam.

“Eh, jangan dulu dong! Emanng yang salah ini nggak mau dikoreksi dulu? Sekalian deh aku jelasin kesalahannya, biar lu ngerti,” kata Ana. Lesbi Mesum

“Tapi entar aku pulang kemalemann, Fan,” jawab Ema bingung. “Gini aja. Lu telepon aja nyokap lu. Bilang lu nginep di sini malem ini.

Sekalian nemenin aku,” balas Ana. Walaupun nada bicaranya biasa saja, dalam hati Ana sangat berharap Ema menyambut usulnya ini. “Kalo dikasih, ye?” jawab Ema membuat Ana girang.

Ema yang mengagumi kakak kelasnya yang cantik dan pintar ini sebenarnya memang senang diajak menginap. Maka ia pun menelepon ke rumahnya dan ternyata diizinkan untuk menginap.

Dengan gembira, Ana merangkul leher Ema, dan mengajaknya ke meja makan untuk makan malam. Lengannya jatuh dengan santai di dada Ema selagi mereka berjalan. cerita hot Lesbi

Walau tampak santai, sebenarnya Ana sangat berdebar-debar merasakan buah dada lembut adik kelasnya ini bergesek-gesek dengan tangannya.

Tapi apa lacur, jarak tak jauh membuat Ana terpaksa melepas rangkulannya. Selesai makan, mereka pun melanjutkan pelajaran dengan serius, hingga Ana pun melupakan sensasi gairah singkat yang sempat ia rasakan.

“Udeh dulu ye, Fan?” pinta Ema setelah sekitar 1,5 jam belajar, “Otak aku udeh butek nih!” lanjutnya setengah memohon. “Iya deh. Aku juga udah capek,” jawab Ana, “Yuk ah!” katanya sambil berdiri membereskan buku-buku di meja makan. cerita Lesbi hot

Mereka beranjak ke kamar Ana dan Ema langsung menghenyakkan tubuhnya di ranjang sementara Ana sendiri duduk di kursi meja belajarnya. Mereka mengobrol tak tentu arah beberapa saat ketika akhirnya arah obrolan entah kenapa mulai menyinggung ke arah yang sensitif.

“Ooh, jadi lu udah mens?” kata Ana, lalu dilanjutkan, “Jadi udah doyan cowok dong?” “Tapi aku masih males cari pacar. Cowok-cowok pada kasar sih! Nggak demen aku!” balas Ema.

Ana yang merasa mendapat angin langsung mengarahkan pembicaraan. “Lha, aku kirain toket lu gede karena sering dipegang-pegang ama pacar lu.” kumpulan cerita Lesbi hot

“Enggak lagi. Ini Emang dari sononya begini,” jawab Ema sambil menatap buah dadanya, “Kayaknya sih Emang keturunan, keluarga aku yang cewek toketnya Emang gede-gede.”

Ana yang mulai berdebar-debar dengan arah pembicaraan ini merasa mendapat jalan dan terus menekan. Ia membuka kaosnya, menampilkan mini set menutupi buah dadanya yang kecil, walaupun tampak mulai tumbuh.

“Kayaknya toket aku nggak gede-gede deh,” ujarnya sambil meloloskan mini set dari dadanya, menampilkan putingnya yang berwarna coklat muda,

“Aku pengen segede punya lu, Em.” Ema terhenyak melihat kakak kelasnya dengan santai bertelanjang dada di depannya.
cerita x Lesbi
Seumur hidup ia belum pernah melihat wanita telanjang, bahkan ibunya sendiri.Ana melanjutkan serangannya.

“Coba deh lihat toket lu.” Ema semakin terbelalak. “Ah, malu ah aku!” “Idih, ngapain malu lagi! Kan nggak ada cowok,” tukas Ana,

“Ayo buka aja.” Agak bingung namun bangga dengan perhatian sang kakak kelas, Ema pun akhirnya meloloskan kaos dari tubuhnya, menampilkan BH putih yang menyembunyikan buah dadanya.

Ana beranjak ke ranjang dan duduk di belakang Ema, langsung meraih dan melepaskan kait BH Ema. Wajah Ema bersemu merah, apalagi saat Ana melepas BH-nya lalu menarik lengannya, membalikkan badannya hingga kini mereka duduk berhadapan di ranjang, sama-sama bertelanjang dada.
cerita seks Lesbi
Ema tertunduk sementara Ana merasakan darahnya berdesir menyaksikan pemandangan indah sepasang buah dada berukuran 34 di hadapannya ini.

Ana menelan ludah berusaha mengendalikan pengalaman seksual pertamanya ini. Ia melihat wajah Ema yang menghindari kontak mata dengannya. “Em, lu kok malu sih? Toket lu bagus lagi.” Ema melirik Ana,

“Segini sih kecil, Fan. Kakak aku pake BH nomor 36B.” “Ya dia kan udah kuliah,” tukas Ana, “Untuk usia lu, toket lu tuh udah gede.”

Wajah Ema semakin memerah dengan perasaan malu bercampur bangga akan pujian kakak kelasnya yang cantik ini.

Sementara di lain pihak, Ana sendiri sEmakin berdebar-debar dan memberanikan diri melanjutkan eksperimen seksualnya.
cerita Lesbi haus
“Aku pegang, ya?” pinta Ana sambil menatap Ema. Gadis manis berambut cepak ini ternyata masih belum berani menatap Ana dan tak memberi jawaban apa-apa.

Ana menganggap Ema tak menolak dan segera meraih dada adik kelasnya ini. Ema menggigit bibir. “Hi hi hi hi hi..” Ema terkikik saat Ana mengelus-elus buah dadanya dengan jantung berdebar-debar,

“Geli, Fan!” lanjut Ema lagi. “Aku mau ngerasain juga dong!” tukas Ana sambil meraih tangan Ema dan menuntunnya ke arah dadanya.

Ema kembali menggigit bibir, namun tak memberikan perlawanan. Tangannya menyentuh puting Ana dan ia pun menggerakkan tangannya berputar-putar meraba buah dada Ana. Ema terpesona saat ia melirik wajah kakak kelasnya ini dan tampak Ana memejamkan mata sambil menggigit bibir. cerita sex Lesbi

Tampak sekali bahwa Ana sangat menikmati sentuhannya. “Enak ya, Fan?” tanya Ema setengah bingung, Ana hanya menganggukkan kepala tanpa membuka mata, “Coba lu raba aku lagi dong,” pinta Ema penasaran.

Kedua gadis itu pun saling meraba buah dada masing-masing beberapa saat. Tampak Ana sangat menikmati sensasi seksual pertamanya ini. Kulit telanjang mereka sama-sama tampak merinding. Ana melepaskan tangannya dari dada Ema, lalu menghela napas panjang, menikmati dengan sepenuh hati rangsangan gairah pertamanya ini, sementara Ema kembali terkikik geli.

Ana bangkit dan menarik lengan Ema agar mengikutinya berdiri. “Lu mau tahu nggak rasanya kalo pacaran ama cowok?” tanya Ana yang membuat Ema bingung tak mengerti. Ana melanjutkan, “Aku juga belom pernah.
Ngentot Lesbi
Kita cobain yuk?!” Ema sEmakin tak paham maksud Ana, namun diam saja saat Ana membungkukkan badannya dan langsung mengulum puting Ema dengan lembut.

Ema tersentak dan sontak mundur sambil mendorong kepala Ana, “Gila lu, Fan! Geli lagi! Lihat tuh aku sampe merinding!” tukas Ema menunjukkan seluruh kulit tubuhnya yang mEmang berbintik-bintik merinding.

Tetap dalam posisi membungkuk, Ana melirik sang adik kelas sambil berkata, “Namanya juga baru nyobain. Lu rasain aja dulu. Kata orang-orang enak.”

Ana merengkuh pinggang Ema dan menariknya mendekat, sementara Ema yang kebingungan dengan pengalaman pertama yang baginya sangat aneh ini tak kuasa melawan. Dengan jantung berdebar penuh perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, Lesbi Mesum
Ana kembali menempelkan bibir mungilnya yang basah itu pada puting Ema dan dengan lembut mEmasukkan puting berwarna gelap itu ke dalam mulutnya.

Ia mengulum puting Ema dengan lembut sementara Ema menggigit bibir menahan rasa geli hebat yang kembali membuat seluruh tubuhnya merinding.

Tak lama hingga Ema merasakan rasa geli berubah menjadi perasaan berdesir yang tak ia pahami dan tak bisa ia jelaskan. cerita hot Lesbi

Setiap hisapan Ana memberikan sEmacam perasaan tersetrum ringan yang nikmat dan lenguhan kecil terlepas dari bibirnya tanpa terkendali,

“Uhh..” Terkesiap mendengar ini, Ana menghentikan hisapannya dan bangkit menatap Ema, “Enak ya, Em?” tanyanya dengan polos dan tulus.

Ema tak bisa menjawab, hanya menganggukkan kepalanya. “Terus terang, aku juga suka banget ngisepin pentil lu,” lanjut Ana lagi,

“Aku nggak bisa jelasin perasaan aku, tapi pokoknya enak banget deh, terangsang banget.” Ema kembali hanya mengangguk tanpa bisa bicara. cerita Lesbi hot

Kini Ana menarik lengan Ema dan mendudukkannya di pinggir ranjang, sementara ia sendiri berlutut di lantai, “Aku terusin ya?” katanya lembut. Tanpa menunggu jawaban dari Ema, Ana langsung kembali mendaratkan bibirnya di puting adik kelasnya yang kebingungan itu dan kembali mengulumnya, kali ini dengan gairah yang sEmakin bergelora dalam dadanya sendiri.

Dengan refleks, Ana mulai mEmainkan lidahnya pada puting Ema, membuat Ema terpekik tertahan sambil mendadak kedua tangannya mencengkeram kepala Ana. Namun kali ini Ema tak mendorong Ana. Sebaliknya ia malah seperti menarik kepala Ana agar menghisap dan menjilati putingnya sEmakin keras.

Ana sendiri sangat menikmati gairah yang sEmakin meledak-ledak dalam dirinya, ditambah reaksi Ema yang membuatnya sEmakin terangsang, hingga lidah dan bibirnya sEmakin liar menjilati dan menghisapi puting Ema. kumpulan cerita Lesbi hot

“Ohh..” Ema mendesah tanpa ia sadari. Ana pun melepas mulutnya dari buah dada Ema, membuat kekecewaan dan rasa terkejut terbersit di wajah Ema.

“Gantian dong, Em,” kata Ana, “Kayaknya lu nikmatin banget. Aku kan juga mau ngerasain,” lanjutnya dengan perasaan penuh pengharapan dan antisipasi. Ema tentunya mEmahami ini walaupun merasa sangat aneh harus menghisap buah dada sesama wanita, namun setelah ia merasakan kenikmatan dan rangsangan gairah yang baru kali ini ia rasakan, ia tahu Ana pasti akan merasakan kenikmatan yang sama. cerita x Lesbi

Maka kini Ana duduk di pinggir ranjang dan Ema, masih tetap duduk di pinggir ranjang, membungkukkan badan dan mulai mengulum dan menghisap puting Ana. “Ngghh..” lenguhan Ana langsung meledak begitu bibir basah Ema menghisap putingnya yang kecil dan segar itu.

Mata Ana terpejam rapat sementara darahnya menggelegak oleh rangsangan dan kenikmatan hebat yang baru kali ini ia rasakan. Tahu kakak kelasnya menikmati ini, Ema sEmakin rileks dan melanjutkan hisapan dan jilatannya pada puting Ana, bahkan sEmakin lama sEmakin liar dan ganas, membuat Ana terpaksa mencengkeram kepala Ema dan merintih-rintih menahan gairah,

“Aaahh.. ahh.. Emm.. Enak Emm..” Ema sendiri tak menyangka akan menikmati pengalaman ini, memeluk tubuh Ana dan sEmakin menjadi-jadi menghisapi puting Ana. “Ohh.. ohh.. ohh.. stop.. stop.. stop dulu Em.. ohh.. Emm..” desah Ana. cerita seks Lesbi

Bingung dan takut tindakannya salah hingga Ana tak lagi menikmati ini, Ema berhenti menjilati puting Ana dan menatap kakak kelasnya yang terengah-engah dengan wajah merah padam penuh birahi ini,

“Kenapa, Fan? Nggak enak, ya?” tanya Ema bingung. “Gila lu! Nikmat banget lagi,” balas Ana, “Cuma aku berasa aneh nih, Em.

Kayaknya celana dalem aku makin basah deh.” Ema terbeliak sEmakin bingung mendengar itu. “Mungkin saking nikmatnya aku kencing dikit di celana kali,” lanjut Ana sama-sama tak mengerti.

Ana langsung bangkit berdiri dan melepas celana pendeknya, lalu meraba celana dalamnya, “Tuh kan! Bener basah!” tukasnya lalu ia mencium tangannya yang baru ia pakai meraba selangkangannya itu, “Tapi bukan kencing nih, Em. Nggak pesing tuh!” ujar Ana yang dilanjutkannya dengan meloloskan celana dalamnya hingga kini ia benar-benar telanjang bulat berdiri di depan Ema. cerita Lesbi haus

Ana memeriksa celana dalamnya dan mendapatkan sedikit lendir bening melekat di celana dalamnya. “Ih, bener, bukan kencing, Em.

Lendir nih!” tukas Ana sambil menengok ke arah Ema dan terkejut melihat Ema tampak duduk dengan gelisah sambil menggerak-gerakkan pahanya dengan mata tampak menerawang. “Naah, lu juga basah ya, Em?” sentak Ana mengejutkan Ema!

Serta merta Ana menarik lengan Ema hingga adik kelasnya ini berdiri di depannya, lalu dengan cepat Ana melorotkan celana pendek sekaligus celana dalam Ema yang masih terlalu kebingungan hingga tak melakukan perlawanan.

Ana menarik celana Ema lepas dari pergelangan kakinya lalu kembali berdiri dan menunjukkan lendir bening yang juga terdapat di bagian dalam celana dalam adik kelasnya yang cantik itu. “Tuh lihat, lu juga keluar lendirnya, Em.” Ema hanya bengong sementara Ana sEmakin bergairah pada permainan seksual mereka yang ternyata berkembang jauh melebihi perkiraannya.

Dengan tinggi kurang lebih 160-an cm dan berat sekitar 45 kg, Ana dan Ema benar-benar tampak seperti sepasang gadis cilik, sama-sama telanjang bulat, berdiri berhadapan, menjelajahi pengalaman seksual pertama mereka yang membingungkan, namun menggairahkan sekaligus memberi kenikmatan hebat.

Ana melempar kedua celana dalam ke lantai sambil mengulurkan tangannya ke selangkangan Ema. “Ngghh..”

Ema melenguh panjang selagi setruman gairah hebat meledak dalam dirinya saat jari Ana menyentuh bibir vaginanya yang basah itu. Lututnya sontak terasa lEmas dan kepalanya terasa ringan melayang.

Melihat tEmannya limbung, Ana langsung merangkulnya dan menuntunnya kembali duduk di ranjang. Ana sendiri duduk di samping Ema, merangkul pundak Ema dengan sebelah tangan lalu tangan satunya kembali melanjutkan meraba vagina Ema.

Diiringi desah gairah Ema yang begitu merangsang di telinga sang kakak kelas, Ana menggosok-gosokkan jarinya dengan lembut di sepanjang bibir vagina Ema yang sEmakin lama tampak sEmakin merekah, menampilkan daging merah muda segar dan basah sang perawan cilik. “Hhh.. Fan.. ohh.. ngghh.. mmhh..”Ana sEmakin terangsang dan sEmakin berani.

Ujung jari tengahnya ia masukkan ke dalam vagina Ema dan ia gerakkan menggesek daging segar vagina Ema yang sEmakin lama sEmakin banyak mengeluarkan lendir bening itu dari bawah ke atas, hingga menyentuh klitoris Ema yang mulai mencuat. “Ngk! Ahh..” Ema terpekik menggairahkan saat jari Ana mencapai klitorisnya.

Ana terkejut namun sEmakin terangsang melihat reaksi nikmat sang adik kelas. Wajah menggEmaskan Ema tampak sEmakin menggairahkan dengan mata terpejam menikmati sentuhan lembut Ana.

Mempertahankan kelembutan tekanannya, jari Ana sEmakin cepat menggesek vagina dan klitoris Ema, membuat Ema mendesah dan merintih tak terkendali.

“Hhh.. hh.. ngh.. nghh.. mm.. mm.. ohh..” Sementara vagina Ana sendiri sEmakin basah oleh lendir gairah, Ana sEmakin terangsang melihat kenikmatan yang jelas-jelas ditunjukkan Ema di wajahnya, ia pun sEmakin bergelora dan membungkukkan badannya dan kembali menjilati dan menghisap puting Ema dengan liar dan bernafsu.

“Ohh.. ohh.. ohh.. Fann.. gillaa.. ohh.. ennak Fan.. mmhh..” “Sllrrp.. sllrrpp.. klcp.. klcp.. sllrrpp.. klcp.. mm.. klcp.. klcp..” “Mmm.. mm.. mm.. nghh.. nghh.. Faann.. Faann.. Fann.. oh.. oh.. oh.. oh..” Desahan dan rintihan Ema yang dipenuhi kenikmatan sEmakin terdengar liar dan tak terkendali, sementara Ana yang sEmakin terangsang menggesekkan jarinya sEmakin liar di vagina perawan Ema dan lidah dan bibirnya melahap puting Ema dengan sEmakin bernafsu.

Ema sendiri merasa gelombang kenikmatan memuncak dalam dirinya dan suatu perasaan seperti kesemutan merebak perlahan-lahan ke seluruh tubuhnya. Dengan nafas tersengal-sengal, Ema mencengkeram erat kepala Ana dan menekannya keras ke buah dadanya, lalu dalam suatu ledakan kenikmatan yang terasa bagaikan tak berujung,

Ema memekik tertahan saat perasaan kesemutan dalam tubuhnya meledak menjadi setruman kenikmatan puncak yang membuat cairan kental tumpah deras dari dalam vaginanya, membasahi jari Ana yang masih liar menggesek-gesek vaginanya.

“Aaakk!” pekik Ema sambil dengan refleks menjepit tangan Ana dengan kedua pahanya, sementara tangannya mencengkeram kepala Ana sEmakin keras dan kepalanya terdongak ke belakang dengan bola mata terputar ke belakang penuh kenikmatan.

Ana yang berusaha menarik tangannya membuat jarinya kembali menggesek vagina Ema dari bawah ke atas dengan gerakan sangat pelan, membuat Ema kembali menikmati ledakan-ledakan kenikmatan yang terasa tak kunjung habis, mEmaksanya menggigit bibirnya.

Akhirnya tangan Ana lepas dari jepitan paha Ema disertai lenguhan panjang Ema yang mengakhiri kenikmatan puncak orgasme pertamanya, “Ohh..” Ana menatap penuh rasa terpesona dan bergairah saat Ema ambruk terlentang di kasur dengan mata terpejam dan nafas terengah-engah.

Ia menyusul berbaring di samping Ema dan memeluk tubuh sang adik kelas, langsung dibalas pelukan erat Ema yang sangat menikmati pengalaman seksual indah ini. Keduanya berpelukan erat, saling menikmati kenyamanan kehangatan tubuh yang lain.

Setelah beberapa saat, akhirnya mereka saling melepas pelukan dan Ema tersenyum menatap mata Ana. Rasa cinta dan kasih sayang mendalam tersorot jelas dari mata Ema. Ana mEmahami perasaan ini dan mengecup bibir Ema dengan lembut.

Mereka lalu terkikik geli bersama-sama, lalu kembali saling berpelukan erat dan Ema berbisik di telinga Ana, “Fan, aku nggak ngerti perasaan aku saat ini.

Tapi rasanya aku nggak mau pisah dari elu. Aku rasanya sayaang banget ama elu.” Ana tersenyum dan membalas bisikan sang adik kelas,

“Aku juga sayang banget ama elu, Em. Lu jadi pacar aku aja, ya?” Walaupun tak pernah terpikir akan berpacaran dengan sesama wanita, namun Ema tak bisa memungkiri perasaannya saat ini, “Iya, Fan. Aku mau jadi pacar elu. Aku cinta ama elu.”

Mereka melanjutkan berpelukan erat dan hangat selama beberapa saat, lalu Ema melepas pelukannya dan berkata pada Ana. “Gila, Fan. Lu bikin aku nikmat banget. Sekarang gantian ya, aku yang raba elu?” “Iya dong, aku juga mau ngerasain kayak elu.

Tapi jari lu jangan dimasukin ya? Kayak aku aja tadi, digesek-gesek aja. Aku takut keperawanan aku sobek,” balas Ana. Ema hanya mengangguk dan tetap dalam posisi rebahan, ia membuka paha Ana hingga mengangkang lebar, membuka vagina mudanya yang segar merekah, lalu mulai meraba-rabanya dengan jari tengahnya.

Tak memakan waktu lama bagi vagina Ana untuk kembali basah penuh lendir gairah, apalagi saat Ema mendaratkan bibir dan lidahnya, mempermainkan puting Ana yang mungil itu. Desahan dan rintihan Ana pun akhirnya meledak menjadi pekikan penuh kenikmatan saat orgasme yang liar dan lama, seperti yang dinikmati Ema, bergejolak dalam tubuh mungil Ana.

Dalam keadaan sama-sama telanjang bulat, Ana dan Ema berpelukan mesra dan penuh kasih sayang, hingga akhirnya mereka tertidur pulas hingga pagi. selesai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*