Candu Cerita Sex Begulat dengan Birahiku | Candu Sex
VIMAX
Agen Capsa
Bandar Q agen bandarq online bandar sakong bandar sakong bandarq online
Home » Cerita Sex Sedarah » Candu Cerita Sex Begulat dengan Birahiku

Candu Cerita Sex Begulat dengan Birahiku

Bandar Sakong

Cerita Sex Begulat dengan Birahiku. Memang aku termasuk wanita yang dibilang kuat tapi bukan tanda kutip , kuat dalam menghadapi hidup dimana aku di vonis oleh dokter kandungan tidak bisa untuk mempunyai anak lagi, sungguh menyedihkan perasaanku saat mendengar itu, dan lebih sakitnya ialah suamiku yang mana sehabis aku melahirkan putraku dia minta ijin untuk menikah lagi katanya kalau hanya satu anak tidak cukup baginya.

Cerita Sex Begulat dengan Birahiku

cerita sex sedarah, cerita ml sedarah, cerita ngesex sedarah, sedarah cerita, cerita hubungan sedarah, cerita sedarah bergambar, cerita ngetot sedarah, cerita 18 sedarah, cerita sedarah keluarga, cerita sedarah panas, cerita sedarah baru, daftar cerita sedarah, cerita seks sedarah, cerita sedarah kakak, cerita bokep sedarah, cerita nakal sedarah, cerita ngntot sedarah, cerita sedarah adik, cerita sedarah new, cerita sedarah terkini, cerita sedarah 18, cerita wanita sedarah, cerita cerita sedarah

Dengan rasa sedih aku merelakan dia untuk menikah lagi, karena dia menginginkan anak perempuan dan laki laki, aku memikirkan keselamatanku dan untuk diangkat parakanku di dalam rahimku, dan akhirnya suamiku menikah dengan istri mudanya, dia jarang pulang rumah mungkin 2 aatau 3 minggu sekali dia datang kerumah untuk melihat kondisi aku dan anakku yang sekarang sudah masuk ke kelas 3 SMP.

Pada istri mudanya dia dikarunia 4 anak yang mana masih kecil kecil, aku harus puas, memiliki tiga buah toko yang serahkan atas namaku serta sebuah mobil dan sebuah taksi selain sedikit deposito yang terus kutabung untuk biaya kuliah anakku Pratama nanti.

Pratama sendiri sudah tak perduli pada ayahnya. Malah, kalau ayahnya pulang, kelihatan Pratama tak bersahabat dengannya. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Semoga saja Pratama tidak berdosa pada ayahnya.

Setiap malam Aku selalu mengeloni Pratama agar tubuhku tak kedinginan ditiup oleh suasana dingin AC di kamar tidurku. Pratama juga kalau kedinginan, justru merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Pratama memang anak yang manja dan aku menyenanginya.

Sudah menjadi kebiasaanku, kalau aku tidur hanya memakai daster mini tanpa sehelai kain pun di balik daster miniku. Aku menikmati tidurku dengan udara dinginnya AC dan timpa selimut tebal yang lebar.

NIkmat sekali rasanya tidur memeluk anak semata wayangku, Pratama. Kusalurkan belai kasih sayangku padanya. Hanya padanya yang aku sayangi.

Sudah beberapa kali aku merasakan buah dadaku diisap-isap oleh Pratama. Aku mengelus-elus kepala Pratama dengan kelembutan dan kasih sayang. Tapi kali ini, tidak seperti biasanya. Hisapan pada pentil teteku, terasa demikian indahnya.

Terlebih sebelah tangan Pratama mengelus-elus bulu memekku. Oh… indah sekali. Aku membiarkannya. Toh dia anakku juga. Biarlah, agar tidurnya membuahkan mimpi yang indah.

Saat aku mencabut pentil tetekku dari mulut Pratama, dia mendesah.“Mamaaaaa…”

Kuganti memasukkan pentil tetekku yang lain ke dalam mulutnya. Selalu begitu, sampai akhirnya mulutnya terlepas dari tetekku dan aku menyelimutinya dan kami tertidur pulas. Malam ini, aku justru sangat bernafsu.

Aku ingin disetubuhi. Ah… Mampukah Pratama menyetubuhiku. Usianya baru 15 tahun. Masih SMP. Mampukah. Pertanyaan itu selalu bergulat dalam bathinku.

Keesokan paginya, saat Pratama pergi ke sekolah, aku membongkar lemari yang sudah lama tak kurapikan. Di lemari pakaian Pratama di kamarnya (walau dia tak pernah meniduri kamarnya itu) aku melihat beberapa keping CD.

Saat aku putar, ternyata semua nya film-film porno dengan berbagai posisi. Dadaku gemuruh.

Apaah anakku sudah mengerti seks? Apakah dia sudah mencobanya dengan perempuan lain? Atau dengan pelacur kah? Haruskah aku menanyakan ini pada anakku?

Apakah jiwanya tidak terganggu, kalau aku mempertanyakannya? Dalam aku berpikir, kusimpulkan, sebaiknya kubiarkan dulu dan aku akan menyelidikinya dengan sebaik mungkin dengan setertutup mungkin.

Seusai Pratama mengerjakan PR-nya (Disekolah Pratama memang anak pintar), dia menaiki tempat tidur dan memasuki selimutku.

Dia cium pipi kiri dan pipi kananku sembari membisikkan: Selamat malam… mama…” Biasanya aku menjawabnya dengan:

”Selamat malam sayang…” Tapi kalau aku sudah tertidur, biasanya aku tak menjawabnya. Dadaku gemuruh, apaah malam ini aku mempertanyakan CD porno itu. Akhirnya aku membiarkan saja. Dan…

Aku kembali merasakan buah dadaku dikeluarkan dari balik dasterku yang mini dan tipis. Pratama mengisapnya perlahan-lahan. Ah… kembali aku bernafsu. Terlebih kembali sebelah tangannya mengelus-elus bulu memekku.

Sebuah jari-jarinya mulai mengelus klentitku. AKu merasakan kenikmatan. Kali ini, aku yakin Pratama tidak tidur. Aku merasakan dari nafasnya yang memburu. Aku diam saja. Sampai jarinya memasuki lubang memekku dan mempermainkan jarinya di sana dan tangan yang satu terus memainkan tetekku. Ingin rasanya aku mendesah, tapi…

Aku tahu, Pratama menurunkan celananya, sampai bagian bawah tubuhnya sudah bertelanjang. Dengan sebelah kakinya, dia mengangkangkan kedua kakiku. Dan…. Pratama menaiki tubuhku dengan perlahan.

Aku merasakan penisnya mengeras. Berkali-kali dia menusukkan penis itu ke dalam memekku. Pratama ternyata tidak mengetahui, dimana lubang memek.

Berkali-kali gagal. Aku kasihan padanya, karena hampir saja dia putus asa. Tanpa sadar, aku mengangkangkan kedua kakiu lebih lebar.

Saat penisnya menusuk bagian atas memekku, aku mengangkat pantatku dan perlahan penis itu memasuki ruang memekku. Pratama menekannya. Memekku yang sudah basah, langsung menelan penisnya.

Nampaknya Pratama belum mampu mengatasi keseimbangan dirinya. Dia langsung menggenjotku dan mengisapi tetekku. Lalu crooot…croot…croooootttt, spermanya menyemprot di dalam memekku.

Tubuhnya mengejang dan melemas beberapa saat kemudian. Perlahan Pratama menuruni tubuhku. Aku belum sampai… tapi aku tak mungkin berbuat apa-apa.

Besok malamnya, hal itu terjadi lagi. Terjadi lagi dan terjadi lagi. Setidaknya tiga kali dalam semingu. Pratama pun menjadi laki-laki yang dewasa. Tak sedikit pun kami menyinggung kejadian malam-malam itu. Kami hanya berbicara tentang hal-hal lain saja. Sampai suatu sore, aku benar-benar bernafsu sekali.

Ingin sekali disetubuhi. Saat berpapasan dengan Pratama aku mengelus penisnya dari luar celananya. Pratama membalas meremas pantatku.

Aku secepatnyake kamar dan membuka semua pakaianku, lalu merebahkan diri di atas tempat di tutupi selimut. Aku berharap, Pratama memasuki kamar tidurku. Belum sempat usai aku berharap, Pratama sudeah memasuki kamar tidurku.

Di naik ke kamar tidurku dan menyingkap selimutku. Melihat aku tertidur dengan telanjang bulat, Pratama langsung melepas semuapakaiannya. Sampai bugil. Bibirku dan tetekku sasaran utamanya. AKu mengelus-elus kepalanya dan tubuhnya.

Sampai akhirnya aku menyeret tubuhnya menaiki tubuhku. KUkangkangkan kedua kakiku dan menuntun penisnya menembus memekku.

Nafsuku yang sudah memuncak, membuat kedua kakiku melingkar pada pinggangnya. Mulutnya masih rakus mengisapi dan menggigit kecil pentil tetekku. Sampai akhirnya, kami sama-sama menikmatinya dan melepas kenikmatan kami bersama.

Seusai itu, kami sama-sama minum susu panas dan bercerita tentang hal-hal lain, seakan apa yang baru kami lakukan, buka sebuah peristiwa.

Malamnya, seisai Pratama mengerjakan PR-nya dia mendatangiku yang lagi baca majalah wanita di sofa. Tatapan matanya, kumengerti apa maunya. Walau sore tadi kami baru saja melakukannya. Kutuntun dia duduk di lantai menghadapku.

Setelah dia duduk,aku membuka dasterku dan mengarahkan wajahnya ke memekku. AKu berharap Pratama tau apa yang harus dia lakukan, setelah belajar dari CD pornonya.

Benar saja, lidah Pratama sudah bermain di memekku. Aku terus membaca majalah, seperti tak terjadi apa-apa. AKu merasa nikmatr sekali. Lidahnya terus menyedot-nyedot klentitku dan kedua tangannya mengelus-elus pinggangku. Sampa akhirnya aku menjepit kepalanya, karean aku akan orgasme.

Pratama menghentikan jilatannya Dan aku melepaskan nikmatku. Kemudia kedua kakiku kembali merenggang. AKu merasakan Pratama menjilati basahnya memekku. Setelah puas, Pratama bangkir. Aku turun ke lantai.

Kini pratama yang membuka celananya dan menarik kepalaku agar mulutku merapat ke penisnya. Penis yang keras itu kujilati dengandiam. Pratama menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Kepalaku ditangkapnya dan dileus-elusnya.

Aku terus menjilatinya dan terus melahap penisnya, sampai spermanya memenuhi mulutku. Sampai akhirnyanormal kembali dan kami duduk bersisian menyaksikan film lepas di TV. Seusai nonton film, aku mengajaknya untuk tidur, karean besok dia harus sekolah, dan aku harus memeriksa pembukuan toko.

“yuk tidur sayang,” kataku.Pratama bangkit dan menggamit tanganku, lalu kami tertidur pulas sampai pagi.

Siang itu, aku mendengar Pratama pulang sekolah dan dia minta makan. Kami sama-sama makan siang di meja makan. Usai makan siang, kami sama-sama mengangkat piring kotor dan sama-sama mencucinya di dapur.

Pratama menceritakan guru baruya yang sangat disiplin dan terasa agak kejam. Aku mendengarkan semua keluhan dan cerita anakku.

Itu kebiasaanku, sampai akhirnya aku harus mengetahui siapa Pratama. Aku juga mulai menanyakan siapa pacarnya dan pernah pergi ke tempat pelacuran atau tidak.

Sebenarnya aku tahu Pratama tidak pernah pacaran dan tidak pernah kepelacuran dari diary-nya. Kami sama-sama menyusun piring dan melap piring sampai ke ring ke rak-nya, sembari kami terusbercerita.

“Ma…besok Pratama diajak teman mendaki gunung…boleh engak, Ma?” tanya Pratama meminta izinku sembari tangannya memasuku bagian atas dasterku dan mengelus tetekku.

“Nanti kalau sudah SMA saja ya sayang…” kataku sembari mengelus penis Pratama.“Berarti tahun depan dong, Ma,” katanya sembari mengjilati leherku.

“Oh… iya sayang… Tahun depan” kataku pula sembari membelai penisnya dan melepas kancing celana biru sekolahnya dan melepas semua pakaiannya sampai Pratama telanjang bulat.

“Kalau mama bilang gak boleh ya udah. Pratama gak ikut,” katanya sembari melepaskan pula kancing dasterku sampai aku telanjang bulat.

Ya.. kami terus bercerita tentang sekolah Pratama dan kami sudah bertelanjang bulat bersama.“Sesekali kita wisata ke puncak yuk ma…” kata Pratama sembari menjilati leherku dan mengelus tetekku. Aku duduk di kursi kamar dan Pratama berdiri di belakangku.

Uh… anakku sudah benar-benar dewasa. Dia ingin sekali bermesraan dan sangat romantis.

“Kapan Pratama maunya ke puncak?” kataku sembari menkmati jilatannya. Aku pun mulai menuntunnya agar berada di hadapanku.

Pratama kubimbing untuk naik ke atas tubuhku. Kedua kakinya mengangkangi tubuhku dan bertumpu pada kursi. Panttanya sudah berada di atas kedua pahaku dan aku memeluknya. Kuarahkan murnya untuk mengisap pentil tetekku.

“Bagaimana kalau malam ini saja kita ke puncak sayang. Besok libur dan lusa sudah minggu. Kita di puncak dua malam,” kataku sembari mengelus-elus rambutnya.

“Setuju ma. Kita bawa dua buah selimut ma,” katanya mengganti isapan nya dari tetekku yang satu ke tetekku yang lain.“Kenapa harus dua sayang. Satu saja..” kataku yang merasakan tusukan penisnya yang mengeras di pangkal perutku.

“Selimutnya kita satukan biar semakin tebal, biar hangat ma. Dua selimut kita lapis dua,” katanya. Dia mendongakkan wajahnya dan memejamkan matanya, meminta agar lidahku memasuki mulutnya.

Aku membernya. Sluuupp… lidahku langsung diisapnya dengan lembut dan sebelah tangannya mengelus tetekku.

Tiba-tiba Pratama berdiri dan amengarahkan penisnya ke mulutku. Aku menyambutnya. Saat penis itu berada dalam mulutku dan aku mulai menjilatinya dalam mata terpejam Pratama mengatakan:”Rasanya kita langsung saja pergi ya ma.

Sampai dipuncak belum sore. Kita boleh jalan-jalan ke gunung yang dekat villa itu,” katanya.

Aku mengerti maksudenya, agar aku cepat menyelesaikan keinginannya dan kami segera berangkat. Cepat aku menjilati penisnya dan Pratama Meremas-remas rambutku dengan lembut. Sampai akhirnya, Pratama menekan kuat-kuat penisnya ke dalam mulutku dan meremas rambutku juga.

Pada tekak mulutku, aku merasakan hangatnya semprotan sperma Pratama beberapa kali. Kemudian dia duduk kembali ke pangkuanku. Di ciumnya pipiku kiri-kanan dan mengecup keningku. Uh… dewasanya Pratama. Au membalas mengecup keningnya dengan lembut.

Pratama turun dari kursi, lalu memakaikan dasterku dan dia pergi ke kamar mandi. Aku kekamar menyiapkan sesuatu yang harus kami bawa.

Aku tak lupamembawa dua buah selimut dan pakaian yang mampu mebnghangatkan tubuhku. Semua siap. Mobil meluncur ke puncak, mengikuti liuknya jalan aspal yang hitam menembus kabut yang dingin.

Kami tiba pukul 15.00. Setelah check in, kami langsung makan di restoran di tepi sawah dan memesan ikan mas goreng serta lapannya. Kami makan dengan lahap sekali. Dari sana kami menjalani jalan setapak menaik ke lereng bukit.

Dari sana, aku melihat sebuah mobil biru tua, Toyota Land Cruiser melintas jalan menuju villa yang tak jauh dari villa kami. Mobil suamiku, ayahnya Pratama. Pasti dia dengan isteri mudanya atau dengan pelacur muda, bisik hatiku.

Cepat kutarik Pratama agar dia tak melihat ayahnya. Aku terlambat, Pratama terlebih daulu melihat mobil yang dia kenal itu. Pratama meludah dan menyumpahi ayahnya:

”Biadab !!!” Begitu bencinya dia pada ayahnya. Aku hanya memeluknya dan mengelus-elus kepalanya. Kami meneruskan perjalanan. Aku tak mau suasana istirahat ini membuatnya jadi tak indah.

Sebuah bangku terbuat dari bata yang disemen. Kami duduk berdampingan diatasnya menatap jauh ke bawah sana, ke hamparan sawah yang baru ditanami. Indah sekali.Pratama merebahkan kepalanya ke dadaku. AKu tahu galau hatinya. Kuelus kepalanya dan kubelai belai.

“Tak boleh menyalahkan siapapun dalam hidup ini. Kita harus menikmati hidup kita dengan tenang dan damai serta tulus,” kata ku mengecup bibirnya.

Angin mulai berhembus sepoi-sepoi dan kabut sesekali menampar-nampar wajah kami. Pratama mulai meremas tetekku , walau masih ditutupi oleh pakaianku dan bra.

“Iya. Kita harus hidup bahagia. Bahagia hanya untuk milik kita saja,” katanya lalu mencium leherku.“Kamu lihat petani itu?

Mereka sangat bahagia meniti hidupnya,” kataku sembari mengelus-elus penisnya dari balik celananya. Pratama berdiri, lalu menuntunku beridiri. Aku mengikutinya. Dia mengelus-elus pantatku dengan lembut.

“Lumpur-lumpur itu pasti lembut sekali, Ma,” katanya terus mengelus pantatku. Pasti Pratama terobsesi dengan anal seks, pikirku. Aku harus memberinya agar dia senang dan bahagia serta tak lari kemana-mana apalagi ke pelacur. Dia tak boleh mendapatkannya dari perempuan jalang.

Kami mulai menuruni bukit setelah mobil Toyota biru itu hilang, mungkin ke dalam garasi villa. Pratama tetap memeluk pinggangku dan kami memesan dua botol teh. Kami meminumnya di tepi warung.

“Wah… anaknya ganteng sekali bu. Manja lagi,” kata pemilik warung. Aku tersenyum dan Pratamapun tak melepaskan pelukannya. Sifatnya memang manja sekali.

“Senang ya bu, punya anak ganteng,” kata pemilik warung itu lagi. Kembali aku tersenyum dan orang-orang yang berada di warung itu kelihatan iri melihat kemesraanku dengan anakku.

Mereka pasti tidak tau apa yang sedang kami rasakan. Keindahan yang bagaimana. Mereka tak tahu.

Setelah membayar, kami menuruni bukit dan kembali ke villa. Angin semakin kencang sore menjelang mahgrib itu. Kami memesan dua gelas kopi susu panas dan membawanya ke dalam kamar. Setelah mengunci kamar, aku melapaskan semua pakaianku.

Bukankah tadi Pratama mengelus-elus pantatku? BUkankah dia ingin anal seks? Setelah aku bertelanjang bulat, aku mendekati Pratama dan melepaskan semua pakaiannya.

Kulumasi penisnya pakai lotion. Aku melumasi pula duburku dengan lotion. Di lantai aku menunggingkan tubuhku. Pratama mendatangiku. Kutuntun penisnya yang begitu cepat mengeras menusuk lubang duburku.

Aku pernah merasakan ini sekali dalam hidupku ketika aku baru menikah. Sakit sekali rasanya. Dari temanku aku mengetahui, kalau mau main dri dubur, harus memakai pelumas, katanya. Kini aku ingin praktekkan pada Pratama

Pratama mengarahkan ujung penisnya ke duburku. Kedua lututnya, tempatnya bertumpu. Perlahan…perlahan dan perlahan… Aku merasakan tusukan itu dengan perlahan.

Ah… Pratama, kau begitu mampu memberikan apa yang aku inginkan, bisik hatiku sendiri. Setiap kali aku merasa kesat, aku denga tanganku menambahi lumasan lotion ke batangnya. Aku merasakan penis itu keluar-masukdalam duburku.

Kuarahkan sebelah tangan Pratama untuk mengelus-elus klentitku. Waw… nimat sekali. Di satu sisi klentitku nikat disapu-sapu dan di sisi lain, duburku dilintasi oleh penis yang keluar masuk sangat teratur.

Tak ada suara apa pun yang terdengar. Sunyi sepi dan diam. Hanya ada desau angin, desah nafas yang meburu dan sesekali ada suara burung kecil berkicau di luar sna, menuju sarangnya.

Tubuh Pratama sudah menempel di punggungku. Sebelah tangannya mengelus-elus klentitku dan sebelah lagi meremas tetekku. Lidahnya menjilati tengkukku dan dan leherku bergantian. Aku sangat beruntung mememiliki anak seperti Pratama.

Dia laku-laki perkasa dan penuh kelembutan. Tapi… kenapa kali ini dia begitu buas dan demikian binal? Tapi… Aku semakin menikmati kebuasan Pratama anak kandungku sendiri. Buasnya Pratama, adalah buas yang sangat santun dan penuh kasih.

Aku sudah tak mampu membendung nikmatku. AKu menjepit tangan Pratama yang masih mengelus klentitku jugamenjepit penisnyadengan duburku. Pratama mendesah-desah…

“Oh… oh….oooooohh…”

Pratama menggigit bahuku dan mempermainkan lidahnya di sela-sela gigitannya. Dan remasan pada tetekku terasa begitu nikmat sekali. Ooooooooooohhhh… desahnya dan aku pun menjerit..

Akhhhhhhhhhhhh……… Lalu aku menelungkup di lantai karpet tak mampu lagi kedua lututku untuk bertumpu.

Penis Pratama mengecil dan meluncur cepat keluar dari duburku. Pratama cepat membalikkan tubuhku. Langsung aku diselimutinya dan dia masuk ke dalam selimut, sembari mengecupi leherku dan pipiku. Kami terdiam, sampai desah nafas kami normal.

Pratama menuntunku duduk dan membimbingku duduk di kursi, lalu melilit tubuhku dengan selimut hotel yang tersedia di atas tempat tidur.

Dia mendekatkan kopi susu ke mulutku. Aku meneguknya. Kudengar dia mencuci penisnya, lalu kembali mendekat padaku. Dia kecul pipiku dan mengatakan:”Malam ini kita makan apa, Ma?”

“Terserah Pratama saja sayang.”“Setelah makan kita kemana, Ma?” dia membelai pipiku dan mengecupnya lagi.

“Terserah Pratama saja sayang. Hari ini, adalah harinya Pratama. Mama ngikut saja apa maunya anak mama,” kataku lembut.

“OK, Ma. Hari ini haerinya Pratama. Besok sampai minggu, harinya mama. Malam ini kita di kamar saja. Aku tak mau ketemu dengan orang yang naik Toyota Biru itu,” katanya geram. Nampaknya penuh dendam. Aku menghela nafas.

Usai makan malam, kami kembali ke kamar dan langsung tidur di bawah dua selimut yang hangat dan berpelukan. Kami tidur sampai pukul 09.00 pagi baru terbangun. selesai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*