Candu Cerita Sex Peluang Bersetubuh | Candu Sex
VIMAX
Agen Capsa
Bandar Q agen bandarq online bandar sakong bandar sakong bandarq online
Home » Cerita Sex Selingkuh » Candu Cerita Sex Peluang Bersetubuh

Candu Cerita Sex Peluang Bersetubuh

Bandar Sakong

Cerita Sex Peluang Bersetubuh. Dalam cerita ini Rojak yang biasanya mengintip pengantin baru, sering meilhat mba Siska yang kadang tidak pernah merasakan klimak dalam hubungannya, maka dari itu Rojak mempunyai keinginan untuk membuat mb Siska terpuaskan tanpa sepengetahuan suaminya, Rojak yang umurnya masih 27 tahun bekerja di sebuah perusahaan swasta, kamar antara pengantin baru dan rojak hanya terbatas oleh satu tembok, berikut kita swimak kisah sex Rojak.

Cerita Mesum Peluang Bersetubuh

cerita sex perselingkuhan, cerita perselingkuhan terbaru, cerita perselingkuhan ibu rumah tangga, cerita cerita perselingkuhan, cerita perselingkuhan ibu, cerita perselingkuhan di kantor, cerita ngesek perselingkuhan, cerita perselingkuhan wanita, cerita perselingkuhan istriku, cerita perselingkuhan bergambar, cerita mesum perselingkuhan, cerita perselingkuhan dengan tetangga, perselingkuhan cerita, cerita perselingkuhan sampai hamil, cerita perselingkuhan tetangga, cerita hubungan perselingkuhan, cerita perselingkuhan terpanas, cerita birahi perselingkuhan, cerita bokep perselingkuhan

Pada sore hari itu saya iseng-iseng untuk memanjat dinding tembok pembatas kamarku, serta kamar sampingku yang dihuni oleh pasangan pengantin baru, yakni Mas Ahmad serta Mba’ Siska. Waktu itu saya Hanya punya maksud lihat kesibukan tetangga sebelahku lewat Fentilasi. Sesudah saya saksikan nyatanya mereka tengah tiduran sembari mengobrol diatas ranjang.

Waktu itu saya mengawasi selalu aktivitas mereka, waktu itu kulihat Mas Ahmad cuma menggunakan singlet, demikian halnya Mba’ Siska yang cuma menggunakan pakaian dalam. Mentang-mentang mereka pengantin baru di dalam kamar cuma menggunakan baju dalam saja.

Waktu itu saya mengharapkan pada meraka supaya mereka selekasnya terkait sexs. hhe. tak lama kemudian, Mas Ahmad serta Mba’ Siska bicara sembari berpelukan.

Lantaran posisiku waktu itu lumayan jauh serta cuma lihat dari sela fetilasi, jadi saya kurang dapat menangkap apa yang mereka bicarakan.

Waktu itu sesekali Mba’ Siska tertawa, serta Beberapakali juga saya amati Mas Ahmad meremas buah dada Mba’ Siska. Sesudah demikian lama saya menanti, selanjutnya yang saya berharap berlangsung juga.

Mendadak Mas Ahmad buka celana pendeknya serta memegang tangan Mba’ Siska.

Lantas Mas Ahmad waktu itu menyuruh Mba’ Siska memegang kejantanan Mas Ahmad. Mba’ Siska nampaknya menurut serta memasukan tangannya kedalam celana boxer Mas Ahmad, namun baru sebentar telah ditariknya kembali, nampaknya Mba’ Siska menampik. Yahhhh, baru diminta gitu saja tidak mau, terlebih bila diminta nyepongin, ucapku dalam hati kecewa.

Tetapi kekecewaanku terobati lantaran sejurus lalu Mas Ahmad mendadak bangkit dari tempat tidur serta melepas celananya. Saat ini dia cuma berCD (celana dalam) serta bersinglet. Lalu Mas Ahmad-pun memeluk Mba’ Siska. Saya tersenyum kegirangan, hasratku untuk lihat keduanya bercinta nampaknya bakal tercukupi

Selang beberapa saat, Mas Ahmad-pun melepas pelukannya serta Mba’ Mba’ Siska-pun mulai melepas celananya. Saat ini sama dengan suaminya, Mba’ Siska cuma bersinglet serta berCD (celana dalam). Kulihat pahanya, putih serta mulus sekali. Lalu mendadak Mas Ahmad keluarkan kejantanannya dari CD (celana dalam) nya. Kecil sekali, dibanding punysaya, ucapku dalam hati lihat kejantanan Mas Ahmad.

Mas Ahmad-pun segera menekan Mba’ Siska, nampaknya Mas Ahmad bakal ber-penestrasi Mba’ Siska. Kulihat Mba’ Siska memelorotkan CD (celana dalam) -nya cuma hingga hanya paha saja. Sejurus lalu saya lihat pelan Mas Ahmad memasukkan kejantanannya kedalam lubang kewanitaan Mba’ Siska yang tertutup rambut kewanitaan.

Sesudah kejantanan Mas Ahmad masuk keseluruhannya kedalam liang senggama Mba’ Siska, Mas Ahmad segera memeluk Mba’ Siska sembari menciumnya bertubu-tubi. Itu dilsayakan cukup lama. Saya sedikit keheranan mengapa Mas Ahmad tak melsayakan genjotan, tak mendorong-dorong pinggulnya. Mas Ahmad cuma diam memeluk Mba’ Siska.

Payah nih, ini tentu lantaran Mas Ahmad tidak tahan bermain lama, tidak seperti saya ucapku dalam hati, tertawa, terasa unggul dari Mas Ahmad. Disinilah saya mulai lihat ada kesempatanku untuk ikut melsayakan tumpangsari pada Mba’ Siska. Ditambah lagi, peristiwa itu cuma berjalan begitu singkat, sekitaran 7 menit. Walau Mba’ Siska dapat meraih klimaksnya, namun Mas Ahmad sangat cepat.

Saya me-nangkap kekecewaan di muka Mba’ Siska, walau Mba’ Siska berupaya tersenyum sesudah permainan itu, namun saya meyakini ia tak senang dengan permainan Mas Ahmad. Dari hasil pengintaian sayakemarin, hal semacam itu membuatku mengambil rangkuman, ada peluang saya dapat menyetubuhi Mba’ Siska serta rasakan nikmat badannya, bila butuh saya akan menanam benih Dari kejadian itu saya-pun mulai menyusun rencana.

Kebetulan Mas Ahmad itu belum bekerja, ada kesempatan bagiku untuk membuatnya berpisah cukup lama dari Mba’ Siska. Apalagi saya punya kenalan yang bekerja di perusahaan, namanya Totok.Siang ini saya menjumpai Totok di kantornya,

“ Hai Rom, apa kabar ? ”, tanya Totok sambil menjabat tanganku.

“ Baik nih Tok ”, jawabku sambil ter-senyum.

“ Oh iya, duduk dulu deh Rom, biar enak kita ngobrolnya ”, ucap Totok mempersilahkanku.

Setelah saya duduk di kursi kantornya yang empuk itu, saya mulai mengajukan permintaan,

“ Tok, saya butuh bantuanmu ”, ucap saya.

“ Oh, itu semua bisa diatur, emang bantuan apa ni Rom ? ”, tanya Totok.

“ Aku butuh pekerjaan nih Tok ”, ucapku.

“ Ouh kerjaan, itu gampang Rom, memangnya kamu ingin diposisi apa dan minta gaji berapa ??? ”, tanya Totok.

“ Bukan buwat aku maksudnya Tok, tapi ini untuk orang lain ”, terang saya.

“ Hmmm… memangnya untuk siapa ? ”, tanya Totok.

“ Untuk temanku, Mas Ahmad namanya Tok, kamu wawancarai, tempatkan di mana saja kamu suka, nggak perlu tinggi-tinggi betul jabatannya ”, terang saya.

“ Aneh…tapi jika itu maumu, yaa tidak apa-apa ”, jawabnya.

“ Yang penting kamu wawancarai dia cukup lama, dan kamu wawancarnya kalau bisa diulang sampai beberapa kali gitu Tok ”, terangku pada Totok.

“ Oke deh Rom, kalau itu semua kemauan kamu ”, jawab Totok menuruti saya.

“ Tapi… nanti jadwal wawancara-nya saya yang tentuin ya Tok, hhe… Gimana, bisakan Tok ??? ”, pintaku lagi pada Totok.

“ Ah, kamu ini ada-ada aja deh Rom, yaudah deh terserah kamu aja deh Rom ”, ucap Totok mengiyakan kemauan saya.

Maka saat itu mulailah saya menyusun jadwal interview Mas Ahmad, mulai lusa, hari rabu sampai jumat dari jam 07.00 sampai 10.00 pagi.Totok menyetujuinya, kemudian saya permisi pulang. Dalam perjalanan pulang, hatiku sangat senang, sudah terbayang nikmatnya tubuh Mba’ Siska itu. Sesampainya di kos-kosanku, saya langsung bertemu dengan Mas Ahmad di tempat cuci,tampak Mas Ahmad sedang menyuci bajunya.

“ Mas… saya ingin bicara sebentar ”, ucapku mulai membuka percakapan.

Saat itu Mas Ahmad-pun menoleh dan menghentikan pekerjaannya,

“ Ada apa Rom ??? ”, tanya Mas Ahmad.

“ Begini nih Mas, saya dengar Mas Ahmad mencari pekerjaan, kebetulan tadi saya ke tempat teman saya, dia perlu pegawai baru, dia-nya sih malas menaruh iklan di koran, soalnya dia hanya butuh satu orang ”, ucapku panjang lebar menjelaskan.

Saat itu saya sedikit berdebar-debar karena menunggu tanggapan Mas Ahmad. Setelah beberapa saat Mas Ahmad kulihat terdiam, merenung, lalu

“ Hmmm… saya pikir dulu, sebelumnya terima kasih ya Rom ”,ucap Mas Ahmad.

“ Ya Mas sama-sama… ”, ucapku dengan senyuman.

Saat itu dalam hatiku, saya berpikir habislah sudah kesempatanku, tapi setelah di dalam kamar, sekitar 1 jam kemudian saya yang tertidur, terbangun oleh ketukan di pintu. Saya lalu bangun, mengucek-ngucek mata saya, melihat dari jendela. Tampak Mas Ahmad berdiri menunggu. Saya-pun cepat-cepat membuka pintu.

“ Wah… sedang tidur ya, kalau gitu nanti saja deh ”,ucap mas Mas Ahmad akan pergi lagi.

“ Enggak kog Mas, saya sudah bangun nih ”, ucapku berusaha mencegah Mas Ahmad pergi.

“ Gangguin tidur kamu nggak ? ”, tanya Mas Ahmad.

“ Ndak… masuk saja Mas ”, ucapku mempersilahkan.

Setelah kami berdua duduk di karpet kamarku, lalu…

“ Begini, ini soal lamaran kerja yang kamu bilang itu, tempatnya di mana sih ? ”, tanya Mas Ahmad.

“ Ooo…itu di Kaliurang km 10 nomor 17, nama perusahaannya PT. A, nggak jauh kok Mas ”, terangku.

“ Syaratnya apa aja ya Rom kira-kira ? ”, tanya Mas Ahmad.

“ Saya kurang tau juga tuh, Mas Ahmad pergi saja ke sana. temui teman saya, Totok, katakan Mas butuh pekerjaan ”, tahunya dari Rojak.

“ Wah…kok rasanya kurang enak ya, seperti nepotisme saja… ”, Mas Ahmad sepertinya keberatan.

“ Enggak… nggak… kog, perusahaan-nya besar, Mas ke sana juga belum tentu diterima, Mas tetap melalui tes dulu ”, ucapku meyakinkan Mas Ahmad.

“ Hmmm…baiklah, saya coba dulu deh Rom, jam berapa ya ke sana ? ”, ucap Mas Ahmad.

“ Sekitar jam kerja saja baiknya, jam 07.00 pagi saja Mas ”, ucapku menyarankan.

Mas Ahmad hanya mengangguk tersenyum, lalu permisi seraya tak lupa berterima kasih kepadsaya. Saya hanya tersenyum, berarti selangkah lagi keinginanku tercapai. Hari ini selasa, sesuai pre-diksiku, Mas Ahmad pagi-pagi sudah berangkat, dan sekitar jam 11.00 siang baru pulang.Saya menuju ke kamarnya, lalu mengetuk pintu,

“ Assalamualaikum ”, saya memberi salam.

Waalaikumussalam, terdengar jawaban Mas Ahmad dari dalam kamarnya.Lama baru pintu dibuka, dan Mas Ahmad mempersilahkanku untuk masuk. Kulihat di dalam kamarnya, istrinya tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan me-makai jilbab putih, tersenyum padsaya. Mba’ Siska tampak cantik sekali.

“ Bagaimana Mas, tadi ? ”, tanya saya.

“ Oh…nanti saya disuruh ke sana lagi, besok untuk interview Rom ”, ucap mas Ahmad.

“ Alhamdulillah, saya doakan supaya keterima ya Mas ”, ucapku berbasa-basi.

“ Terima kasih ya Rom ”, ucapnya.

Setelah berbasa – basi cukup lama, sayapun permisi,

“ Eehh…nanti dulu, kamu khan belum minum ”,ucap Mas Ahmad berusaha mencegahku.

“ Ayo Mah buatkan air minumnya dong ”, perintah Mas Ahmad me-nyuruh istrinya.

Saya menolak dengan halus,

“ Ah nggak usah Mas, saya sebentar aja kog, soalnya saya ada urusan ”, ucapku berpura-pura.

“ Oh baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya ”, ucap Mas Ahmad.

Saya tersenyum mengangguk, kulihat Mba’ Siska tidak jadi membuat minuman. Sayapun pergi ke ka-marku, riang karena sebentar lagi adikku akan bersarang dan menemukanpasangannya.

Hari ini rabu, Mas Ahmad sudah berangkat dan meninggalkan Mba’ Siska sendirian dikamarnya. Rencana mulai kulaksanakan.

Saya membongkar beberapa koleksi kaset pornoku, memilih salah satunya yang saya anggap paling bagus, kaset porno dari Indonesia sendiri, lalu membungkusnya dengan kertas merah jambu.Kemudian sambil membawa bungkusan Kaset itu, saya menuju ke kamar tetanggsaya, mengetuk pintu,

“ Assalamualaikum, saya mem-beri salam. Lama baru terdengar jawaban,

“ Waalaikumsalam ”, sahut Mba’ Siska dari dalam kamar itu.

Tidak kama pintunya-pun terbuka, kulihat Mba’ Siska melongokkan kepalanya yang berjilbab itudari celah pintu,

“ Ada apa ya ? ”, tanya-nya.

“ Ini ada hadiah dari saya, saya mau membeSiskan kemarin tetapi lupa ucapku sambil menunjukkan bungkusan Kaset itu ”, ucapku.

“ Oh, baiklah ”, ucap Mba’ Siska sambil bermaksud mengambil bungkusan di tanganku itu.

“ Eee…tunggu dulu Mba’, ini isinya Kaset, saya mau lihat apa bisa muter nggak di komputernya Mas Ahmad ”, ucapku mengarang alasan.

Sedikit keberatan kelihatannya, akhirnya Mba’ Siska mempersilahkanku untuk masuk, saya yakin dia juga kurang ngerti tentang komputer.

Di dalam kamar, saya menghidupkan komputer dan mengoperasikan program dvd playernya, lalu kumasukkan kaset-ku itu dan kujalankan. Sesuai dugaanku Kaset itu berjalan bagus.

“ Mba’ pingin nonton ? ”, tanya saya sambil melihat Mba’ Siska yang sedari tadi duduk di belakang memperhatikanku.

“ Film apa sih ? ”, tanya Mba’ Siska kepada saya.

Pokoknya bagus deh Mba’ filnya ”, ucapku.

Kemudian membeSiskan pe-tunjuk bagi Mba’ Siska , bagaimana cara menghentikan player dan mematikan komputernya.

Mba’ Siska hanya mengangguk, lalu kupermisi untuk pergi mumpung filmnya belum masuk ke bagian intinya. Pintu kamar tetangga saya itu-pun kembali ditutup, saya bergegas ke kamarku, mau mengintip apa yang dilsayakan Mba’ Siska.

Setelah di kamarku. melalui Fentilasi kulihat Mba’ Siska menonton di depan komputer. Dia tampaknya kaget begitu melihat adegan porno langsung hadir di layar monitor komputer itu. Dengan cemas saya menantikan reaksinya. Menit demi menit berlalu hingga sudah 15 menit kulihat Mba’ Siska masih tetap menonton. Saya senang berarti Mba’ Siska menyukainya.

Lalu terjadi sesuatu yang lebih dari saya harapkan, tangan Mba’ Siska saat itu mulai masuk ke dalam dalam roknya, dan bergerak-gerak di dalam rok itu.

“ Ssssss… Oughhhh… Aghhhhh… ”, desahnya mulai terdengar.

Suara Mba’ Siska mendesah-desah , tampaknya merasakankenikmatan.Saya kaget, Wah, hebat ternyata ber-masturbasi ucapku dalam hati. Rasanya saat itu saya ingin segera masuk ke kamar Mba’ Siska, kemudian memeluk dan langsung menyetubuhinya. Saat itu masih hanya angan-angan, tapi saya sadar, ini perlu proses dan hal ini tidak semudah seperti yang saya katakan tadi.

Akhirnya saya memutuskan untuk tetap mengintip, dan berinisiatif mengukur kemampuanku. Sayapun mulai melsayakan onani dengan memain-mainkan kejantananku. Film di komputer itu terus berjalan, kira-kira hampir 1jam lamanya, pertanda film itu akan habis dan Mba’ Siska kulihat sudah empat kali klimaks, luar biasa.

Dan ketika filmnya berakhir, Mba’ Siska ternyata masih me-neruskan masturbasinya hingga menggenapi klimaksnya menjadi lima kali.

“ Aghhhhhh… ”, Mba’ Siska terpekik pelan menandai klimaksnya.

Sesaat setelah klimaks Mba’ Siska yang kelima saya-pun ejakulasi.

“ Oughhhhh… ”, suara berat-ku mengiringi luapan air mani di tanganku.

Saya senang sekali, berarti saya lebih tangguh dari Mas Ahmad dan bisa memuaskan Mba’ Siska nantinya karena bisa klimaks dan ejakulasi bersamaan.Kemudian Mba’ Siska sesuai petunjukku, kulihat mengeluarkan Kasetnya dan mematikan komputer. Setelah siang hari, Mas Ahmad baru pulang. Sedikit berdebar-debar saya menunggu perkembangan di kamar tetangga saya itu.

Saya takut kalau-kalau Mba’ Siska ngomong macam- macam soal Kaset itu, bisa berabe saya. Tetapi kelihatannya tak terjadi apa-apa. Kembali saya mengintip lewat Fentilasi, apa yang terjadi di sebelah. Begitu saya mulai mengintip, saya kaget ! Karena kulihat Mba’ Siska dalam keadaan hampir bugil. Saat itu Mba’ Siska hanya memakai CD (celana dalam) dihimpit oleh Mas Ahmad.

Lalu mereka-pun mulai bersetubuh. Namun seperti yang dulu-dulu, permainan itu hanya berlangsung sebentar dan tampaknya Mba’ Siska kelihatan tidak menikmati dan tidak bisa mencapai klimaks. Bahkan saya melihat Mba’ Siska seringkali kesakitan ketika penetrasi atau ketika buah dadanya diremas. Bagaimanapun saya senang, langkah kedua saya berhasil.

Hal itu membuat Mba’ Siska tidak bisalagi mencapai klimaks dengan Mas Ahmad. Prediksiku, Mba’ Siska akan sangat tergantung pada Kaset itu untuk kepuasan klimaksnya, sedangkan cara menghidupkan Kaset itu hanya saya yang tahu, disinilah kesempatanku. Hari Kamis, pukul 09.00 pagi, saya bangun dari tidur, mempersiapkan segala sesuatunya.

Kebetulan saat itu hari cuti bersama diperusahaan saya, pas sekalikan para pembaca. Hari ini bisa jadi saat yang sangat bersejarah bagiku. Kemarin saya telah mengintip Mba’ Siska dan Mas Ahmad seharian, mereka kemarin ber-setubuh hanya 2 kali, itupun berlangsung sangat cepat, dan yang penting bagiku, Mba’ Siska tidak bisa klimaks.

Malam kemarin saya juga sudah bersiap-siap dengan minum segelas jamu kuat, yang bisa menambah kualitas spermsaya.

Pada pagi hari itu, setelah saya mandi, saya berpakaian sebaik mungkin, parfum beraroma melati kuusapkan ke seluruh tubuhku, rambutku juga sudah disisir rapi. Lalu dengan langkah pasti saya melangkah ke tetangga sebelahku, Mba’ Siska yang sedang sendirian. Kembali saya mengetuk pintu kamarnya pelan,

“ Selamat pagi Mba’ ”, ucapku msembari mengetuk pintu Mba’ Siska.

“ Iya, siapa yah ”, suara lembut Mba’ Siska menyahut dari dalam kamar.

Mba’ Siska-pun membuka pintu, kali ini dia berdiri di depan pintunya, tidak seperti kemarin yang hanya melongokkan kepala dari celah pintu yang se’dikit terbuka. Saat itu dia memakai jilbab biru dengan motif renda, terlihat sangat manis sekali,

“ Oh kamu Rom, kenapa lagi Rom kamu kesini ??? ”, tanya Mba’Siska.

“ Gini Mba’, saya kemarin lupa memberitahukan cara mengelurkan kaset yang kemarin Mba’ ”, ucapku sambil tersenyum.

Tiba-tiba raut muka Mba’ Siska menjadi sangat serius,dan berkata

“ Kamu bener-bener kurang ajar ya Rom, masa kamu muterin Kaset porno pada Mba’ ”, kata Mba’ Siska sedikit keras.

Saat itu saya terkaget, ternyata dia mara. Lalu saat itu juga saya cepat mengarang alasan,

“ Wah… maaf Mba’, kaset itu adalah hadiah dari teman saya Mba’, setahu saya isi kaset itu adalah film humor, maafin saya ya Mba’, kasetnya tertukar, yaudah saya ambil lagi ya Mba’ kasetnya, seklai lagi maafkan saya ya Mba’ ”, ucapku. Cerita Sex Selingkuh

Saat itu Mba’ Siska tidak menjawab, lalu dia masuk ke dalam kamarnya. Saat itu dia tampak kecewa, saya senang berarti dia takut kehilangan Kaset itu. Lalu saya-pun masuk ke kamarnya melalui pintu yang sedari tadi terbuka. Mba’ Siska kaget, melihatku mengikuti langkahnya,

“ Eeeh… kamu kok ikut masuk juga ??? ”, ucap Mba’ Siska.

Saat itu sambil menutup pintu kamar Mba’ Siska, dengan tenang saya menjawab,

“ Ahhh… Mba’ jangan munafiklah, toh Mba’ juga menyukai kaset porno itu, saya lihat Mba’ sampai masturbasi segala ”, ucapku dengan tegas.

“ Kurang ajar kamu ya Rom, keluar nggak kamu !!! Kalau tidak saya akan berteriak ”, gertak Mba’ Siska.

“ Mba’ jangan marah dulu, coba Mba’ pikirkan lagi, sejak menonton Kaset itu, Mba’ tidak bisa lagi klimaks dengan Mas Ahmad khan ”, ucapku sembari merebut kaset itu dan mematahkannya. Seketika itu Mba’ Siska terkejut,

“ Ka… kamu… ”.

Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, saya memotongnya,

“ Saya bersedia membeSiskan kepuasan kepada Mba’ Siska, saya jamin Mba’ Siska bisa klimaks bila main dengan saya ”, rayuku.

“ Kurang ajar, Keluar kamu !!! ”, gertaknya lagi.

“ Oh tidak bisa, tidak segampang itu Mba’ mengusir saya, ayolah Mba’ Siska jangan marah !!! pikirkan dulu, saya satu-satunya kesempatan, bila Mba’ Siska tidak memakai saya, seumur-umur Mba’ Siska nggak akan pernah mencapai klimaks lagi ”, ucap saya terus menghasutnya.

Saat itu Mba’ Siska terdiam sebentar, saya senang dan berpikir dia mulai termakan rayuanku, namun,

“ sekali tidak ya tidak, kamu ngerti nggks sih ??? keluar kamu !!!! ucap Mba’ Siska membentak saya lagi.

Sebenarnya saat itu saya mulai takut dan gemetar, tapi saat itu sudah terlanjur basah, maka saya terus berusaha untuk merayu Mba’Siska dan berkata,

“ Sebaiknya Mba’ pikirkan lagi, di sini cuma saya yang mengajukan diri memuaskan Mba’, saya satu-satunya kesempatan Mba’, kalau Mba’ tidak mengambil kesempatan ini, Mba’ akan menyesal seumur hidup… ”, ucapku sedikit tegas.

Lama kulihat Mba’ Siska terdiam, bahkan dia kini terduduk lemas di samping ranjangnya. Saya pura-pura mengalah,

“ Ya udahlah, jika Mba’ tidak mau, saya pergi saja, saya itu cuma kasihan ngelihat Mba’ ”, ucapku sambil beranjak pergi.

Tetapi kulihat Mba’ Siska hanya diam terduduk di ranjangnya, saya membatalkan niatku, pintu yang telah terbuka kini kututup lagi dan kukunci dari dalam. Perlahan saya mendekati Mba’ Siska, kulihat dia menangis,

“ Mba’, jangan menangis gitu dong, tidak ada maksud saya sedikitpun menyakiti Mba’, ucapku sambil mulai menyeka air matanya dengan tanganku.

Lalu pelan-pelan kupegang pundak Mba’ Siska dan kudorong pelan dia agar berbaring di ranjang. Ternyata Mba’ Siska hanya menurut saja, saya senang seklai saat itu, ternyata rayuanku berhasil meruntuhkan pendiriannya.Kemudian saya mulai membuka resleting celana panjangnya, saat itu dia tampaknya inign menolak, namun saat itu saya dengan santai menepis tangannya.

Saya-pun melanjutkan aksi saya dengan memasukkan tanganku ke dalam celana Mba’ Siska. Tanganku masuk kedalam CD (celana dalam)nya, lalu langsung jariku menuju ke tengah lubang birahinya. Saya sudah terburu nafsu, mencucuk-cucukkan jemariku ke dalam lubangitu berkali-kali.

“ Aghhhhh… Ssss… Aghhhhhhh ”,desahan Mba’ Siska mengiringi setiap aksi jemariku.

Saya ingin membuatnya terang-sang dan mencapai klimaks. Lalu dengan cepat kutarikcelana pan-jang dan kolornya, sehingga terlihatlah pahanya yang putih dan mulus, saya langsung mencium paha mulus itu bertubi-tubi, menjilat paha putih Mba’ Siska dengan merata. Sayapun mengincar klitoris Mba’ Siska yang tersembul ke luar dari bagian atas liang senggama-nya.

Tanpa buang waktu saya langsung mengkulum klitoris itu di dalam mulutku,

“ Eummm… sruppp… eummmm… sruppp… sruppp ”, suara lidahku menari-nari di di klitoris-nya, ssembari sesekali kugigit pelan-pelan klitoris Mba’Siska.

“ Aghhhh… Oughhhhh… Sssssss… Rom… Aghhhhhh ”, desah Mba’ Siska mulai terdengar.

Saat itu tanganku semakin kupercepat menusuk liang senggama Mba’ Siska dan lidahku makin menggila menari-nari di atas klitorisnya itu. Perlahan kubimbing Mba’ Siska mencapai puncaknya, hingga akhirnya…

“ Oughhhhhhhhhhhhhhh…. ”, terdengar pekikan pelan Mba’ Siska mengiringi klimaksnya.

Pada saat itu saya melihat jemari tanganku sudah basah, hal itu bukan karena liurku melainkan karena lendir kawin Mba’ Siska yang telah basah. Saya mencium kewanitaan itu, tercium bau khas cairan kewanitaan wanita yang klimaks. Saya tersenyum, hatiku senang karena bisa membawa Mba’ Siska mencapai klimaksnya.

Tetapi saya tidak berhenti sampai di situ saja.

Setelah memelankan permainan jariku di liang senggama-nya, kini permainan jari saya-pun kembali kupercepat. Terdengar desahan Mba’ Siska,

“ Aghhhh… Oughhhh… yeaah… ”, Mba’ Siska mulai meracau. Cerita Sex Selingkuh

Sementara tangan kiriku beroperasi di kewanitaan Mba’ Siska, tangan kananku mulai meremas blus Mba’ Siska, dengan cepat tangan kananku merobek blus itu dan menarik kutangnya hingga menyembullah buah dada Mba’ Siska yang indah membukit.Kemudian saya menghisap kedua puting itu sambil tangan kananku meremas buah dada Mba’ Siska bergantian,

“ Slurrpp… slrrrrpp… .slluuurpp ”, suara hisapan saya pada puting Mba’ Siska.

Dan sat itu-pun desahan Mba’ Siska mulai terdengar di telinga saya,

“ Ughhhh… Aghhhh… terus… Rom… terusin… Sssss… ”, ucapnya.

Saat itu dengan tangan kiriku tetap beraksi di kewanitaan Mba’ Siska. Kini mulutku mulai merangkak maju menuju bibir Mba’ Siska yang mendesah-desah, begitu wajah kami bertatapan, kulumat bibir mungil itu dalam-dalam, Mba’ Siska sedikit kaget,

“ Oughhhh… eummm… slurpppp ”,

Saat itu Mba’ Siska tidak bisa lagi bersuara, karena bibirnya telah kulumat, dan lidahnya kini-pun bertemu dengan lidahku yang mulai menari-nari didalam mulutnya. Saat itu saya memang berusaha membimbing Mba’ Siska agar klimaks untuk kedua kalinya. Agar di saat klimaksnya itu saya bisa memasukankejantananku, mempenetrasi kewanitaannya.

Karena saya sadar penetrasi itu akan sangat sakit karena ukuran kejantananku lebih besar dari punya Mas Ahmad yang biasa masuk.Sambil mencium dan merang-sang liang senggama Mba’ Siska, tangan kananku mulai melepas celana panjangku dan boxer, lalu melemparkannya ke lantai. Tangan kananku mengelus – elus Torpedoku yang terasa mulai mengeras.

Setelah sekian lama, pada akhirnya Mba’ Siska mencapai klimaksnya untuk yang kedua kali,

“ Oughhhhh… Ssssssssssssssss…. Enak Rom… Aghhhhhhh ”, desah Mba’ Siska.

Mba’ Siska mengerang, tetapi belum selesai erangannya, saya langsung menusukkan kejantananku pelan-pelan ke dalam kewanitaannya.

“ Ughhhh… Ssss… Aghhhhh…”, suara Mba’ Siska terpekik.

Saat itu diiringi dengan atanya sayup-sayup menatap syahdu ke arahku, saya tersenyum.Sayapun mengambil posisi duduk dan mengangkangkan kedua paha Mba’ Siska dengan kedua tanganku, lalu kulsayakan penetrasi Torpedoku pelan-pelan lama kelamaan menjadi semakin cepat.

“ Clepppp… Slerppp… Pyekkk… Pyekkk… Pyekkk… ”, suara kewanitaan yang mulai basah karena kejantananku mulai terdengar.

Lalu Mba’ Siskapun berkata,

“ Oughhhhh… yeaaah… terus Rom, Oughhh… Sssss… Aghhhh… ”, racau Mba’ Siska mulai tidak terkendali.

Saat itu sayapun semakin mempercepat genjotan, kini kedua kakinya saya sandarkan di pundakku, dengan posisi pinggul Mba’ Siska sedikit kuangkat lalu saya-pun terus mendorong pinggulku berulang-ulang. Sementara dengan sekali sentakan kulepaskan jilbabnya, tampaklah rambut hitam sebahu milik Mba’ Siska yang indah, sambil menggenjot saya membelai rambut hitam itu.

“ Oughhhh… Oughhhhh… Ssss… aghhhh… ”, desah kami saling beriringan.

Suara desahanku dan Mba’ Siska terus terdengar bergantian seperti irama musik alam yang indah.Setelah lama, saya mengubah posisi Mba’ Siska, badannya kutarik sehingga kini diaada di pangkuanku dan kami duduk berhadap-hadapan, sementara kejantananku dan kewanitaannya masih menyatu. Tanganku memegang pinggul Mba’ Siska, membantunya badannya untuk naik turun.

Kepala saya kini dihadapkan pada dua buah dada montok yang segar dan berayun-ayun akibat gerakan kami berdua. Saat itu saya-pun langsung membenamkan kepala saya ke dalam kedua buah dada itu, menjilatnya dan menciumnya be-gantian.Tak kusangka genjotanku membuahkan hasil, tak lama… .

“ Ughhhh… Ssss… Oughhhhh… ”, desah Mba’’ Siska.

Desahan panjang Mba’ Siska itu pertanda bahwa Mba’ Siska telah klimaks, saat itu kepalanya mendongak menatap langit-langit kamarnya saat. Saya senang sekali, kemudian kupelankan genjotanku dan akhirya kuhentikan sesaat. Lama kami saling bertatap-tatapan, saya lalu mencium mesra bibir Mba’ Siska dan Mba’ Siska juga menyambut ciumanku.
Saat itu kami-pun saling berciuman dengan mesra, sungguh nikmatnya. Tidak lama saya-pun menghentikan ciumanku, saya kaget, Mba’ Siska ternyata menangis, lalu aku bertanya,

“ Kenapa Mba’ Siska ? saya menyakiti Mba’ ya ??? ”, tanya saya lembut penuh sesal.

Dengan masih terisak karena menangis, Mba’ Siska menjawab,

“ Nggak kog Rom, kamu justru telah membuat Mba’ bahagia, sebelumnya Mba’ belum pernah merasakan kebahagian seperti bersama suami Mba’”, ucapnya.

Kami berdua tersenyum, ke-mudian pelan saya baringkan Mba’ Siska. Perlahan saya mengencangkan penetrasiku kembali.Sambil meremas kedua payu-daranya, saya membolak-balikkan badan Mba’ Siska ke kiri dan ke kanan. Kami berdua mendesah bergantian,

“ Aghhhh… Aghhhh… Aghhhh… ”, desahku.

“ Oughhhh… Oughhhhh… Ssss… aghhhh… ”, desah Mba’ Siska .

Sampai pada akhirnya saya mulai merasakan urat-uratku menegang dan cairan kejantananku seperti berada di ujung, siap untuk meledak.Saya ingin melsayakannya ber-sama dengan Mba’ Siska. Untuk itu saya memeluk Mba’ Siska, menciumi bibirnya dan membelai rambutnya pelan. Usahsaya berhasil karena perlahan Mba’ Siska kembali terang-sang, bahkan terlalu cepat.Dalam pelukanku kubisikkan ke telinga Mba’ Siska,

“ Ughhhh…Tahan… tahan… Mba’, kita keluarkan bersama-sama ya Mba’, Ssss… Aghhhhh… ”, ucap saya menahan Mba’ Siska.

“ Oughhhh…Ssss… saya udah tidak tahan lagi Rom… Oughhhh…”, ucap Mba’ Siska, sembari mendesah.

Saat itu saya melihat matanya terpejam kuat menahan klimaksnya.

“ Pelan – pelan saja Mba’, kita lsayakan serentak ”, ucapku berbisik sembari kupelankan ayunan torpedoku.

Pada Akhirnya yang kuinginkan terjadi, urat-urat syarafku menegang, kejantananku makin mengeras. Lalu sekuat tenaga saya mendorong pinggulku berulang-ulang dengan cepat.

“ Ouhhhh… Ssss… Aghhh… ”, Desah Mba’ Siska.

Kepalanya tersentak-sentak karena dorongan kejantananku,

“ Lepaskan… lepaskan… Mba’, sekarang !!! suarsaya mengiringi desahan Mba’ Siska.

Sketika itu Mba’ Siska-pun menuruti saranku, diapun akhirnya melepaskan klimaksnya,

“ Ouhhhhhhhhhh… Ssss… Aghhhhh… … ”, desah Mba’ Siska.

suara berat menandakan ejakulasiku, mengiringi klimaks Mba’ Siska. Saat itu saya-pun memeluk erat ketika dia mendapatkan ejakulasi-nya. Setelah permainan sexs itu, masih dalam keadaan bugil saya terkapar di samping Mba’ Siska yang juga telanjang. Mba’ Siska memelukku dan mencium pipiku berkali-kali sembari membisikkan sesuatu ke telingsaya.

“ Makasih ya Rom, saya puas sekali dengan permainan sexsmu… ”, bisik Mba’ Siska puas kepada saya.

Saat itu Mba’ Siska saya lihat senang, kemudian dia memeluk tubuhku dengan erat, sembari menyandarkan kepalanya di atas dadsaya. Dalam hatiku saya merasakan senang, gembira, tapi juga sedih. Saya sedih dan menyesal melsayakan ini dengan Mba’ Siska, saya takut dia tidak akan pernah lagi mencapai klimaks selain dengan diriku, ini berarti saya menyengsarakan Mba’ Siskadi rahim Mba’ Siska, Tersebut tekadku.
cerita sex selingkuh, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*