Candu Cerita Sex Kuinginkan Tubuhmu | Candu Sex
VIMAX
Agen Capsa
Bandar Q agen bandarq online bandar sakong bandar sakong bandarq online
Home » Cerita Sex Janda » Candu Cerita Sex Kuinginkan Tubuhmu

Candu Cerita Sex Kuinginkan Tubuhmu

Bandar Sakong

Candu Cerita Sex Kuinginkan Tubuhmu. Karena hujan Ibu Intan beterduh di salah satu tempat karena dia lupa membawa jas ujan, setelah memakirkan motornya ibu Intan duduk di kursi yang panjang, basah karena sudah terkena air hujan tadi, waktu itu hari sudah gelap, niatnya Ibu intan untuk meneruskan perjalanan terhenti karena ada badai dan petir.

Cerita Sex Kuinginkan Tubuhmu

cerita sex Janda, Ngentot janda, Janda Mesum, cerita hot Janda, cerita Janda hot, kumpulan cerita Janda hot, cerita x Janda, cerita sesk Janda, cerita Janda montok, cerita Janda haus, cerita Janda

Belum lama duduk datang seorang pemuda tanggung yang juga akan berteduh. Setelah menyandarkan Tiger yang dipakainya, pemuda itu cepat-cepat masuk ke bangunan yang belum jadi tersebut. Bu Intan pertama agak khawatir dengan pemuda tersebut namun akhirnya kekhawatirannya akhirnya hilang karena melihat penampilannya juga keramahannya.

Bu Intan melempar senyum dibalas dengan senyum oleh pemuda tersebut. Pemuda tanggung tersebut berkulit putih bersih dan wajah yang diakui oleh Bu Intan memang tampan. Pemuda tersebut duduk di kursi panjang agak berjauhan letaknya dengan Bu Intan.

Cuma sendirian Bu? pemuda tersebut memulai pembicaraan.

Iya Dik Bu Intan menjawab.

Adik dari mana? lanjutnya.

Dari rumah teman, sedang Ibu sendiri dari mana? pemuda itu menyambung.

Dari tempat kerja Dik Bu Intan menjawab.

Koq sampai sore Ibu, memang tidak dijemput oleh suami atau putra Ibu? pemuda tersebut kembali bertanya.

Ndak Dik.. walau udah tua Ibu berusaha sendiri lagian anak-anak Ibu udah berkeluarga semua Bu Intan menyahut.

Eh Adik masih kuliah kelihatannya, nama Adik siapa biar enak kalau manggilnya lanjut Bu Intan, walau dalam hatinya dia agak bingung kenapa harus bertanya namanya.

Ridho Ibu, masih kuliah semester pertama, nama Ibu? jawab pemuda tersebut.

Intan jawab Bu Intan.

Ibu umurnya berapa koq ngakunya sudah tua? Ridho bertanya.

Udah hampir limapuluh Dik Ridho jawab Bu Intan.

Koq masih keliatan lebih muda dari usia Bu Intan lho? lanjut Ridho.

Pembicaraan terhenti sebentar. Baju yang dipakai oleh Bu Intan yang basah secara jelas mencetak buah dadanya yang sekal terbungkus oleh BH hitam yang keliatan sangat menantang di usianya.

Rambutnya yang teruarai lurus sebahu tampak basah juga. Kulitnya yang putih tampak titik air yang masih membasahinya. Ridho terus memandangi tubuh yang Bu Intan.

Tubuh Ibu masih bagus lho, Bu Intan tentu sangat bisa merawat tubuh tiba-tiba Ridho memecah kesunyian. Bu Intan agak kaget dengan pertanyaan Ridho. Dia agak tersinggung dengan pertannyan itu apalagi mata Ridho yang tidak lepas dari dadanya. Anak ini ternyata agak kurang ajar.

Belum lagi keterkejutannya hilang, Ridho berkata lagi, Tentu suami ibu sendiri sangat senang dengan istri yang secantik dan semolek Bu Intan Ridho berkata sambil meremas-remas kemaluannya yang masih dibungkus celananya.

Melihat situasi yang kurang baik itu, Bu Intan tidak menjawab, dia langsung berdiri menuju ke motornya walaupun hujan tampaknya semakin menjadi-jadi. Namun tangan Ridho lebih dulu menyahut tangan Bu Intan. Bu Intan semakin marah.

Kau mau apa haa? hardiknya.

Hujan masih lebat, sedang kita cuma berdua.. saya menginginkan Ibu sahut Ridho dengan santainya sambil merangkul Bu Intan dari belakang.

Menginginkan apa? Bu Intan agak berteriak sambil berusaha melepaskan pelukan Ridho.

Menginginkan tubuh Ibu.. Ridho berkata sambil tangannya beraksi menggerayangi tubuh Bu Intan dari belakang.

Jangan Dik Ridho.. apa kamu nggak merasa umurku.. sebaya dengan ibumu Bu Intan berusaha untuk mengingatkan.

Justru itu saya suka Ridho menyahut.

Tangan kirinya merangkul Bu Intan dari belakang, tangan kananya berusaha menyingkap rok yang dipakai Bu Intan setelah tersingkap ke atas Ridho mengeluarkan penisnya yang sudah keras berdiri. Tak ketinggalan CD yang dipakai oleh Bu Intan dipelorotkan ke bawah.

Tangan Ridho meraba-raba memek Bu Intan yang ditumbuhi oleh jembut yang rimbun. Jarinya berusaha masuk ke lubang kenikmatan Bu Intan.

Dik Ridho.. To.. long.. hentika.. ka.. ka.. ka.. mu nggak se.. harusnya mela.. kuka.. ini.. Dik Ridho Ridho.. Bu Intan berusaha mengingatkan lagi dengan terbata-bata.
Ah.. Jangan.. Dik Ridho.. Ibu.. sudah tua.. ingat.. tambahnya lagi.

Ridho tidak menggubris kata-kata Bu Intan jarinya sudah masuk ke vagina Bu Intan dan bermain-main di dalamnya. Kemudian Ridho berusaha membalikkan tubuh Bu Intan, setelah itu dengan kasar Ridho mendorong tubuh molek itu sehingga jatuh terjerebab ke tanah.

Dengan posisi duduk mengkangkang Bu Intan berusaha bangkit lagi dari duduknya. Pahanya yang mulus tersingkap sampai ke pangkalnya. Pakaian bagian atas acak-acakkan tampak sebagian kutang warna hitam yang seolah tak mampu menahan volume buah dada indah Bu Intan.

Belum sempat berdiri Ridho berkata sambil melepaskan celana dan bajunya, Bu Intan, anda berteriakpun tak akan ada orang yang mendengar.. tempat ini agak jauh dari rumah penduduk sebaiknya Bu Intan tidak usah macam-macam

Aku tak kan sudi melayani kamu.. anak muda Bu Intan setengah berteriak.

Sudah jangan banyak bicara lepaskan pakaianmu.. cepat.. daripada aku menyakiti Ibu sahut Ridho sambil melepaskan celana dalamnya, tampak batang kontolnya yang sudah mengacung keras.

Airmata Bu Intan mulai berlinang. Dia merasa sangat ketakutan dan galau hatinya. Dia merasa tak berharga dihadapan anak muda yang pantas menjadi anaknya. Dia juga merasa menyesal berteduh di tempat itu, dia merasa juga menyesali pakaian kerja yang sering ia kenakan.

Rok yang terlalu tinggi dan baju yang transparan yang memperlihatkan BHnya yang seakan tidak muat menahan buah dadanya, sehingga membuat para lelaki yang menatapnya seolah menelanjanginya.

Namun dalam hatinya berkata juga bahwa baru sekarang dia melihat kemaluan lelaki yang besar, ****** suaminya tidak sebesar itu. Darahnya berdesir kencang.

Belum hilang keterpanaannya sudah dikejutkan oleh suara Ridho lagi, Cepatt! Sudah nggak tahan nih.. Karena dilanda ketakutan, dengan perlahan tangan Bu Intan melepas satu persatu kancing bajunya. Tampaklah payudaranya yang dibungkus oleh BH hitam.

Cepat lepas kutangmu! bentak Ridho.

Dalam hati Bu Intan berkata anak muda memang nggak sabaran. Setelah melepas BHnya, tumpahlah payudara Bu Intan yang masih tampak sekal dan menggairahkan, puting susunya yang coklat kehitam-hitaman tampak menantang sekali. Ridho jongkok di dekat Bu Intan tangannya mulai menggerayangi payudara Bu Intan.

Uh.. ah.. ah.. rintih Bu Intan ketika tangan Ridho memilin milin putingnya.

Tidak puas memilin-milin mulut Ridho mulai mendarat di pucuk anggur itu. Lidahnya menari-nari dan ketika dihisap keras-keras Bu Intan hanya bisa menggigit bibir bagian bawah dan memejamkan matanya.

Setelah puas dengan buah dada Bu Intan Ridho bangkit kemudian mendekatkan kontolnya yang besar tersebut ke mulut wanita paruh baya yang lemah itu.

Hisap.. Bu Intan perintahnya.

Cepatt! bentak Ridho ketika Bu Intan belum juga melakukan apa yang ia kehendaki.

Akhirnya Bu Intan mengulum batang zakar. Pertama dia melakukan hampir saja dia muntah karena selama hidupnya dia baru melakukan beberapa kali dengan suaminya. Bu Intan seakan tidak percaya apa yang dia lakukan sekarang, dia di tempatnya bekerja adalah orang yang dihormati sedang di kampungnya dia juga orang yang disegani Ibu-Ibu. Namun pada saat ini dia sedang melakukan hal yang jorok hingga tentu kehormatannya sebagai wanita hilang sama sekali.

Ridho dengan kasar memaju mundurkan kontolnya sehingga terdengar suara nyaring menggairahkan. Setelah puas Ridho bangkit lagi kemudian di mengambil posisi ditengah-tengah di antara kaki mulus Bu Intan. Sambil mengelus-elus kontolnya yang sudah sangat keras, Ridho berkata, Bu Intan lebarkan lagi agar lebih mudah

Hal yang sangat mendebarkan bagi Bu Intan akan terjadi dengan perlahan Bu Intan membuka lebar kakinya sehingga tampaklah memeknya yang tampak merekah dengan bibirnya yang agak menggelambir. Perlahan dan pasti Ridho menuntun kontolnya memasuki lobang kenikmatan Bu Intan.

Ridho merasakan kehangatan memek Bu Intan dan kekencangannya seakan meremas rudal Ridho. Sebaliknya Bu Intan yang sedari tadi dengan berdebar menantikan hal tersebut seakan terhenti detak jantungnya ketika ia mulai ditusuk oleh anak muda ini. Seakan merobek barang paling berharga yang dimilikinya.

Ketika Ridho mulai mempercepat genjotannya tampaknya Bu Intan juga sudah mulai melambung ke awan. Sementara diluar hujan seakan belum mau berhenti. Ridho semakin mempercepat genjotannya. Buah dada Bu Intan tergoncang-goncang kesana-kemari.

Bu Intan yang semula pasif sedikit memberi perlawanan dengan menggoyangkan pantatnya. Tangannya mengepal memukul lantai, kepalanya bergoyang menahan hawa birahi yang semakin meninggi.

Akhirnya Bu Intan tidak kuat menahan cairan yang semula ia bendung-bendung, lobang memek Bu Intan mengerut kencang ketika dia mencapai puncak. Bu Intan malu kenapa dia bisa orgame padahal ia tidak menginginkan itu. Yang lebih membuat dia bertambah malu adalah Ridho seakan mengetahui hal tersebut.

Ridho tersenyum sambil terus mempercepat genjotannya. Dalam hatinya dia berkata ternyata kau juga merasakan kenikmatan juga.

Dan tampaknya Ridho juga akan sampai ke puncak. Dan terdengar lenguhan panjang Ridho ketika batang kontolnya ia tancapkan dalam-dalam sambil merangkul erat Bu Intan keluarlah cairan sperma membanjiri lobang memek Bu Intan.

Ridho terkulai lemas diatas tubuh bugil Bu Intan jiwa mereka seolah melayang sejenak. Setelah itu Ridho bangkit dan mengambil pakaiannya sambil berkata, Bu Intan berpakaianlah, tampaknya hujan sudah mulai reda, memek Ibu ueenak sekali, terima kasih ya Bu Intan .

Bu Intan menatap Ridho dalam hatinya bercampur antara marah, gundah, galau. Namun satu hal yang dia tidak pungkiri bahwa dia juga menikmati perkosaan yang dilakukan Ridho. Akhirnya Bu Intan memunguti pakaian kemudian mengenakannya kembali. Mereka berjalan ke arah motor mereka tanpa bersuara.

Tampaknya hujan sudah reda. Bu Intan menghidupkan mesin motornya, namun ia dihentikan lagi oleh Ridho. Ridho berkata, Bu Intan saya minta maaf akan kelancangan saya, saya tidak bisa menahan gejolak nafsu saya..

Bu Intan tak menjawab. Ia hanya menatap wajah Ridho dengan mata yang berkaca-kaca. Ridho diam kemudian Ridho mendekatkan wajahnya dan ciuman hangat ia daratkan ke bibir Bu Intan.

Pertama Bu Intan diam namun akhirnya Bu Intan membalas ciuman tersebut. Lidah mereka saling bertautan. Sejenak kemudian Bu Intan tersadar dan melepaskan ciuman tersebut kemudian melajukan kendaraannya.

Ridho hanya terdiam terpaku kemudian menaiki kendaraannya ke arah yang berlawanan. Bu Intan menerobos hujan rintik-rintik dengan perasaan yang sebenarnya terpuaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*